Motivasi
SETELAH kita bicarakan iman dari segala aspeknya, sebagai kesimpulan akan saya sebutkan serba sedikit tentang sifat-sifat yang ada pada orang-orang mukmin, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Semoga dapat kita jadikan garis panduan untuk membina pribadi kita sebagai mukmin yang sebenarnya.
SETELAH kita bicarakan iman dari segala aspeknya, sebagai kesimpulan akan saya sebutkan serba sedikit tentang sifat-sifat yang ada pada orang-orang mukmin, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Semoga dapat kita jadikan garis panduan untuk membina pribadi kita sebagai mukmin yang sebenarnya.
Di dalam Al Quran banyak ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat orang mukmin. Saya akan petik beberapa ayat saja untuk dibincangkan. Saya yakin kalau yang sedikit itu dapat kita amalkan, insya Allah yang banyak akan mudah dilaksanakan. Tetapi kalau yang sedikit itu pun tidak diamalkan, maka yang lain akan bertambah sulit.
Firman Allah SWT:
Terjemahan: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat. Dan menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal itu, tidak tercela. Maka barang siapa mencari di balik itu, mereka itulah orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah dan janji-janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.
(Al Mukminun: 1-9)
Dalam ayat di atas Allah menyebut tujuh sifat yang membuat orang-orang mukmin itu menang dan beruntung. Maknanya kalau ketujuh sifat itu ada pada kita, bergembiralah karena kita telah memperoleh kejayaan dan keuntungan yang sebenarnya. Sifat-sifat itu adalah:
(Al Mukminun: 1-9)
Dalam ayat di atas Allah menyebut tujuh sifat yang membuat orang-orang mukmin itu menang dan beruntung. Maknanya kalau ketujuh sifat itu ada pada kita, bergembiralah karena kita telah memperoleh kejayaan dan keuntungan yang sebenarnya. Sifat-sifat itu adalah:
1. Beriman
Iman yang dimaksudkan di sini adalah iman yang sempurna. Tentang iman yang sempurna telah diterangkan secara terperinci dalam Bab 2 buku ini.
2. Khusyuk Dalam Shalat
Banyak orang shalat tetapi tidak semua yang khusyuk. Untuk mengetahui khusyuk tidaknya kita dalam shalat, ada satu kayu pengukur yang Allah berikan dengan firman-Nya:
Terjemahan: Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
(Al Ankabut: 45)
Kalau kita masih membuat perbuatan-perbuatan yang kotor dan jahat, yaitu segala sesuatu yang dilarang Allah, maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak khusyuk. Kalau begitu, malanglah kita, Allah tidak akan membiarkan kita begitu saja.
(Al Ankabut: 45)
Kalau kita masih membuat perbuatan-perbuatan yang kotor dan jahat, yaitu segala sesuatu yang dilarang Allah, maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak khusyuk. Kalau begitu, malanglah kita, Allah tidak akan membiarkan kita begitu saja.
Allah telah berjanji dengan firman-Nya:
Terjemahan: Neraka Wail bagi orang-orang yang shalat, yang mereka itu lalai dalam shalatnya (tidak khusyuk).
(Al Maa’un: 4-5)
Dengan ayat itu, jangan kita menganggap Allah itu kejam. Sebenarnya itulah keadilan Allah. Yang kejam dan yang selalu menzalimi diri kita adalah kita sendiri. Tujuan sebenarnya kita datang ke dunia adalah untuk menyembah Allah.
(Al Maa’un: 4-5)
Dengan ayat itu, jangan kita menganggap Allah itu kejam. Sebenarnya itulah keadilan Allah. Yang kejam dan yang selalu menzalimi diri kita adalah kita sendiri. Tujuan sebenarnya kita datang ke dunia adalah untuk menyembah Allah.
Terjemahan: Tidak aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku.
(Az Zaariat: 56)
Begitu panjang masa yang Allah berikan kepada kita, yang kalau kita gunakan untuk belajar dan mendidik hati supaya khusyuk, tentu sudah berhasil. Tetapi tidak begitu, umur habis digunakan untuk belajar ilmu lain saja. Kita begitu fasih berbahasa Inggeris, tetapi buta dengan bahasa Al Quran, bahasa shalat, bahasa yang dapat mendekatkan kita dengan agama, dengan Allah dan Rasul. Siapa yang salah? Waktu masih ada, peluang masih terbuka. Cobalah usahakan supaya khusyuk dalam shalat dengan melakukan perkara-perkara berikut:
(Az Zaariat: 56)
Begitu panjang masa yang Allah berikan kepada kita, yang kalau kita gunakan untuk belajar dan mendidik hati supaya khusyuk, tentu sudah berhasil. Tetapi tidak begitu, umur habis digunakan untuk belajar ilmu lain saja. Kita begitu fasih berbahasa Inggeris, tetapi buta dengan bahasa Al Quran, bahasa shalat, bahasa yang dapat mendekatkan kita dengan agama, dengan Allah dan Rasul. Siapa yang salah? Waktu masih ada, peluang masih terbuka. Cobalah usahakan supaya khusyuk dalam shalat dengan melakukan perkara-perkara berikut:
- Yakin dengan Allah (sebagai Tuhan yang kita sembah).
- Cinta pada Allah.
- Paham semua maksud bacaan dan perbuatan dalam shalat.
- Elakkan makan dan minum barang-barang yang haram, makruh atau syubhat (supaya hati tidak gelap).
- Menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berfaedah (tidak berguna).
Semua perbuatan dan perkataan yang melalaikan kita dari Allah adalah tidak berguna. Berbicaralah berapa jam yang kita mampu, tetapi mestilah berfaedah dan tidak melalaikan kita dari Allah. Rasulullah memberi panduan dalam berbicara dengan sabda baginda yang bermaksud :
“Sebaik-baik perkataan adalah sedikit dan bermanfaat.”
Bukanlah bermakna hingga tidak boleh berbicara tetapi elakkan dari berkata-kata kosong dan lebih-lebih lagi jangan menggunakan mulut untuk mengatakan hal-hal yang diharamkan.
Dalam segi perbuatan, elakkan dari perbuatan yang sia-sia dan melalaikan seperti main kartu, main bola, catur, gasing, dan lain-lain sejenisnya. Semua permainan itu sudahlah tidak mendatangkan keuntungan duniawi, bahkan menambah lalainya kita dari Allah. Oleh itu sebaiknya ditinggalkan.
Bukanlah bermakna hingga tidak boleh berbicara tetapi elakkan dari berkata-kata kosong dan lebih-lebih lagi jangan menggunakan mulut untuk mengatakan hal-hal yang diharamkan.
Dalam segi perbuatan, elakkan dari perbuatan yang sia-sia dan melalaikan seperti main kartu, main bola, catur, gasing, dan lain-lain sejenisnya. Semua permainan itu sudahlah tidak mendatangkan keuntungan duniawi, bahkan menambah lalainya kita dari Allah. Oleh itu sebaiknya ditinggalkan.
3. Menunaikan Zakat
Harta kita sebenarnya hak Allah. Jadi janganlah cinta kita pada harta melebihi cinta kita pada Allah. Artinya, atas perintah Allah, keluarkanlah sebagian dari harta itu untuk diberikan pada saudara-saudara kita yang sangat memerlukan.
4. Menjaga Kemaluan
Artinya tidak berzina. Selain isteri-isteri, wanita adalah haram (begitu juga selain suami, lelaki adalah haram). Berzina dalam Islam bukan saja karena melakukan hubungan seks, tetapi ada zina mata, telinga, hidung dan lain-lain. Satu pandangan yang membangkitkan nafsu adalah zina mata. Satu pendengaran yang merangsang nafsu juga zina. Begitu juga bau-bauan yang membirahikan, adalah zina. Zina-zina itu dinamakan zina kecil. Zina-zina itulah yang membawa kepada zina besar. Sebab itu dalam Islam diharamkan pergaulan bebas antara lelaki dan wanita. Disebabkan pergaulan liar itulah yang memungkinkan manusia berzina kecil dan besar.
5. Memelihara Amanah dan Janji
Selain dari amanah dan janji dengan manusia, kita semuanya sedang memegang amanah dan janji dengan Allah. Setiap kali mendirikan shalat kita berjanji dengan Allah:
Terjemahan: Katakan sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
(Al An’am: 162)
Sudahkah kita tunaikan janji itu sepenuhnya? Kalau belum, takutilah hari ketika Allah akan menuntut janji-janji kita itu. Tubuh kita, isteri, anak-anak, harta dan semua yang sedang kita miliki adalah amanah Allah yang dipikulkan-Nya kepada kita. Akan tiba satu hari, Allah akan tarik kembali semua amanah itu dan kita akan ditanya, mata digunakan untuk apa? Bagaimana mulut diperlakukan? Kemana harta dihabiskan? Apa yang diberikan pada isteri? Bagaimana anak-anak diajar dan dididik?
(Al An’am: 162)
Sudahkah kita tunaikan janji itu sepenuhnya? Kalau belum, takutilah hari ketika Allah akan menuntut janji-janji kita itu. Tubuh kita, isteri, anak-anak, harta dan semua yang sedang kita miliki adalah amanah Allah yang dipikulkan-Nya kepada kita. Akan tiba satu hari, Allah akan tarik kembali semua amanah itu dan kita akan ditanya, mata digunakan untuk apa? Bagaimana mulut diperlakukan? Kemana harta dihabiskan? Apa yang diberikan pada isteri? Bagaimana anak-anak diajar dan dididik?
Kalau kita amanah, mempergunakan pemberian Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya, selamatlah kita. Tetapi kalau kita mengkhianati amanah Allah, Nerakalah balasannya.
6. Memelihara Shalat
Shalat adalah kewajiban kita. Telah Allah tetapkan sebanyak lima kali sehari semalam. Kalau kelimanya dapat dipelihara, dengan cara mengerjakannya dengan sempurna, di awal waktu, teratur, tetap, berjemaah dan istiqamah maka itulah yang sebaik-baiknya.
Sebaliknya kalau shalat tidak dipelihara, tidak teratur, kadang-kadang tertinggal, kadang-kadang awal kadang-kadang akhir, terbiar, asal jadi dan tidak sempurna, maka itulah orang yang lalai.
Di akhir ayat tadi, Allah berfirman:
Terjemahan: Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. Yakni yang akan mewarisi Syurga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.
(Al Mukminun: 10-11)
Dengan tujuh sifat yang Allah sebutkan tadi, seseorang akan dapat masuk ke Syurga Firdaus, Syurga yang tertinggi yang kelezatannya tidak ada tandingannya.
(Al Mukminun: 10-11)
Dengan tujuh sifat yang Allah sebutkan tadi, seseorang akan dapat masuk ke Syurga Firdaus, Syurga yang tertinggi yang kelezatannya tidak ada tandingannya.
Sesungguhnya kita tidak layak untuk memasuki Syurga Firdaus, kita masih berdosa. Iman kita belum sempurna. Tetapi apakah kita tahan dengan siksa api Neraka? Tentu tidak. Oleh itu perlu diperjuangkan sungguh-sungguh agar kita selamat. Mohon kasihan belas dari Allah untuk membantu kita mencapai apa yang diperintahkan-Nya itu.
Terjemahan: Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman itu adalah mereka yang apabila disebut ‘Allah’, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan, mereka bertawakal.
(Al Anfal: 2)
Apa yang ditekankan dalam ayat itu adalah keadaan hati orang-orang yang mukmin. Hati yang takut dan tawakal pada Allah. Orang mukmin tidak takut pada manusia dan makhluk apapun, tidak takut dicaci, dibenci, diancam atau dihukum. Yang mereka takutkan adalah kebencian, kemurkaan dan hukuman Allah. Bagi mereka tidak mengapa orang caci atau benci asalkan Allah tidak benci. Biarlah manusia hukum, asal Allah tidak hukum. Kesakitan dari hukuman manusia tidaklah sehebat dan sesakit hukuman dari Allah.
(Al Anfal: 2)
Apa yang ditekankan dalam ayat itu adalah keadaan hati orang-orang yang mukmin. Hati yang takut dan tawakal pada Allah. Orang mukmin tidak takut pada manusia dan makhluk apapun, tidak takut dicaci, dibenci, diancam atau dihukum. Yang mereka takutkan adalah kebencian, kemurkaan dan hukuman Allah. Bagi mereka tidak mengapa orang caci atau benci asalkan Allah tidak benci. Biarlah manusia hukum, asal Allah tidak hukum. Kesakitan dari hukuman manusia tidaklah sehebat dan sesakit hukuman dari Allah.
Orang mukmin juga tidak menyandarkan nasib diri pada manusia atau pada harta tetapi pada Allah. Mereka tidak bimbang apa yang akan terjadi esok, dan di hari tua.
Allah ada. Allah akan aturkan sebaik-baiknya. Mereka cukup yakin dengan firman Allah:
Terjemahan: Jika kamu tolong Allah, niscaya Dia akan tolong kamu. Dan Dia akan menetapkan kedudukanmu.
(Muhammad: 7)
Karena yakin dengan pertolongan Allah, mereka tidak bimbang untuk berjuang menegakkan hukum Allah, tidak takut miskin, tidak takut kalah dan tidak takut mati. Lebih jauh dari itu, orang-orang mukmin sangat cinta pada Akhirat, lebih daripada cinta pada dunia. Sebab itu kesusahan dunia tidak mencacatkan hati mereka. Malah mereka sanggup susah di dunia daripada susah di Akhirat. Susah di dunia karena menegakkan perintah Allah, akan Allah gantikan dengan kesenangan Syurga di Akhirat. Itulah harapan mereka.
(Muhammad: 7)
Karena yakin dengan pertolongan Allah, mereka tidak bimbang untuk berjuang menegakkan hukum Allah, tidak takut miskin, tidak takut kalah dan tidak takut mati. Lebih jauh dari itu, orang-orang mukmin sangat cinta pada Akhirat, lebih daripada cinta pada dunia. Sebab itu kesusahan dunia tidak mencacatkan hati mereka. Malah mereka sanggup susah di dunia daripada susah di Akhirat. Susah di dunia karena menegakkan perintah Allah, akan Allah gantikan dengan kesenangan Syurga di Akhirat. Itulah harapan mereka.
Firman Allah SWT:
Terjemahan: Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar menghukum (mengadili) di antara mereka adalah ucapan, “Kami dengar dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(An Nur: 51)
Sehubungan dengan ayat ini Allah SWT berfirman:
(An Nur: 51)
Sehubungan dengan ayat ini Allah SWT berfirman:
Terjemahan: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
(Al Ahzab: 36)
Kedua ayat itu menunjukkan orang mukmin sangat patuh pada perintah Allah. Dengar saja satu perintah, pasti dilakukan. Kadang-kadang suruhan atau larangan itu bertentangan dengan keinginannya, tetapi tetap ditaati. Berat atau ringan tidak menjadi soal. Yang penting supaya mendapat keredhaan Allah dan menjauhi kemurkaan-Nya.
(Al Ahzab: 36)
Kedua ayat itu menunjukkan orang mukmin sangat patuh pada perintah Allah. Dengar saja satu perintah, pasti dilakukan. Kadang-kadang suruhan atau larangan itu bertentangan dengan keinginannya, tetapi tetap ditaati. Berat atau ringan tidak menjadi soal. Yang penting supaya mendapat keredhaan Allah dan menjauhi kemurkaan-Nya.
Di sini saya bawakan satu cerita yang dapat menggambarkan pada kita bahwa bagi orang mukmin, perintah Allah walaupun bertentangan dengan keinginannya, pasti ditaati.
Hatim al Assam suatu hari berziarah ke rumah tuan mufti di daerahnya. Sesampainya di rumah itu, dilihatnya rumah itu besar, penuh dengan segala kelengkapan dan perhiasan yang bukan keperluan dan mubazir. Beliau segera teringat pada firman Allah:
Terjemahan: Dan janganlah kamu mubazir. Bahwasanya orang-orang yang mubazir itu adalah daripada golongan syaitan dan syaitan itu sangat kufur pada Tuhan.
(Al Isra’: 26 – 27)
Karena itu berazamlah Hatim untuk mengingatkan tuan mufti tentang kelalaian itu. Dengan penuh hikmah dan bijaksana Hatim pun bertindak. Sewaktu sama-sama mengambil wudhu’, Hatim sengaja membasuh semua anggotanya sebanyak empat kali, lebih dari sepatutnya.
(Al Isra’: 26 – 27)
Karena itu berazamlah Hatim untuk mengingatkan tuan mufti tentang kelalaian itu. Dengan penuh hikmah dan bijaksana Hatim pun bertindak. Sewaktu sama-sama mengambil wudhu’, Hatim sengaja membasuh semua anggotanya sebanyak empat kali, lebih dari sepatutnya.
Hal itu telah menarik perhatian tuan mufti sehingga mufti itu berkata, “Kenapa saudara melebihkan basuhan anggota wudhu’ saudara? Bukankah itu makruh dan mubazir namanya?”
Mendengar itu Hatim tersenyum dan berkata, “Mubazir sedikit air pun Islam tidak benarkan. Apalagi mubazir berjuta-juta untuk sebuah rumah dengan segala perhiasan yang tidak berguna, tentulah Islam tidak membenarkan. Tuan, saya bimbang tuan akan dimurkai Allah karena melakukan hal mubazir sedemikian rupa.”
Begitu sikap Hatim, seorang mukmin yang sebenarnya, mengingatkan saudaranya supaya sama-sama mentaati perintah Allah. Bukan artinya Hatim tidak ingin pada rumah besar dengan kelengkapan yang mewah, tetapi dia melawan keinginannya karena mematuhi perintah Allah. Hatim mengorbankan dunianya untuk kepentingan Akhirat. Itulah sikap mukmin yang sebenarnya.
Begitu sikap Hatim, seorang mukmin yang sebenarnya, mengingatkan saudaranya supaya sama-sama mentaati perintah Allah. Bukan artinya Hatim tidak ingin pada rumah besar dengan kelengkapan yang mewah, tetapi dia melawan keinginannya karena mematuhi perintah Allah. Hatim mengorbankan dunianya untuk kepentingan Akhirat. Itulah sikap mukmin yang sebenarnya.
Kita lihat pula Hadits yang menerangkan sifat orang mukmin yang sebenarnya:
Terjemahan: Tidak dianggap sempurna iman seseorang hinggalah aku (Rasulullah) lebih dicintai daripada anaknya, bapaknya dan manusia yang lain.
(Riwayat Al Bukhari)
Cinta adalah pengorbanan. Tidak dinamakan cinta kalau tidak ada pengorbanan untuk yang dicintai. Mencintai Allah dan Rasul-Nya berarti sanggup berkorban untuk-Nya. Dan bukti cinta pada keduanya melebihi yang lain adalah kita sanggup mengorbankan yang lain untuk dan karena keduanya. Kalau tidak begitu, kita belum dikatakan melebihkan cinta pada Allah dan Rasul daripada yang lain-lain.
(Riwayat Al Bukhari)
Cinta adalah pengorbanan. Tidak dinamakan cinta kalau tidak ada pengorbanan untuk yang dicintai. Mencintai Allah dan Rasul-Nya berarti sanggup berkorban untuk-Nya. Dan bukti cinta pada keduanya melebihi yang lain adalah kita sanggup mengorbankan yang lain untuk dan karena keduanya. Kalau tidak begitu, kita belum dikatakan melebihkan cinta pada Allah dan Rasul daripada yang lain-lain.
Misalnya isteri menghalang kita dari berdakwah dan kita pun ikut. Waktu itu cinta pada isteri melebihi cinta kita pada Allah dan Rasul. Atau anak buat maksiat dan kita biarkan. Maka waktu itu anak lebih dicintai dari Allah dan Rasul-Nya. Atau kita sendiri masih terlibat dalam sistem riba, maka kita sebenarnya masih mencintai dunia lebih dari Allah dan Rasul-Nya.
Demikianlah bahwa kalau ada sesuatu kepentingan selain Allah dan Rasul-Nya yang kita utamakan, hingga tidak menghiraukan perintah keduanya, maka kita belum mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain. Dan kalau begitu, kita sebenarnya sedang berada dalam kemurkaan Allah. Firman Allah:
Demikianlah bahwa kalau ada sesuatu kepentingan selain Allah dan Rasul-Nya yang kita utamakan, hingga tidak menghiraukan perintah keduanya, maka kita belum mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain. Dan kalau begitu, kita sebenarnya sedang berada dalam kemurkaan Allah. Firman Allah:
Terjemahan: Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang fasik.
(At Taubah 24)
Untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya kita mesti mengenalinya terlebih dahulu. “Tak kenal maka tak cinta” kata pepatah Melayu. Cara untuk mengenali Allah dan Rasul-Nya tidak lain adalah dengan menuntut ilmu tentang kedua-Nya, yakni ilmu Tauhid. Setelah kita tahu akan kehebatan Allah dan terasa pula bahwa Allah yang menjadikan kita, memelihara kita, memberi makan dan pakaian, memberi sehat dan pandai, memberi jabatan, kemasyhuran, dan semuanya yang masih menjadi milik kita, tentu akan meresap ke hati rasa kehambaan dan kecintaan pada Allah. Rasul yang bersusah payah, mati-matian berjuang untuk menyampaikan kebenaran itu pada kita. Karena jasa dan cintanya pada kita, kini kita dapat menikmati nikmat Islam dan Iman.
(At Taubah 24)
Untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya kita mesti mengenalinya terlebih dahulu. “Tak kenal maka tak cinta” kata pepatah Melayu. Cara untuk mengenali Allah dan Rasul-Nya tidak lain adalah dengan menuntut ilmu tentang kedua-Nya, yakni ilmu Tauhid. Setelah kita tahu akan kehebatan Allah dan terasa pula bahwa Allah yang menjadikan kita, memelihara kita, memberi makan dan pakaian, memberi sehat dan pandai, memberi jabatan, kemasyhuran, dan semuanya yang masih menjadi milik kita, tentu akan meresap ke hati rasa kehambaan dan kecintaan pada Allah. Rasul yang bersusah payah, mati-matian berjuang untuk menyampaikan kebenaran itu pada kita. Karena jasa dan cintanya pada kita, kini kita dapat menikmati nikmat Islam dan Iman.
Terjemahan: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
(At Taubah: 128)
Kalau Rasul begitu kasih dan cinta pada kita, apakah tidak tergerak di hati kita untuk mengasihi dan mencintainya juga? Sesungguhnya tidak ada manusia lain di dunia ini yang dapat memberi kasih sayang sebagaimana kasih sayang yang telah dibuktikan oleh Rasul kepada kita. Oleh itu, sangat sesuai bagi kita untuk berkorban, membuktikan kasih kita pada Rasul, dengan pengorbanan yang lebih besar daripada apa yang telah kita berikan kepada manusia lain. Hanya dengan cara itu saja baru terbukti bahwa kita mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain.
(At Taubah: 128)
Kalau Rasul begitu kasih dan cinta pada kita, apakah tidak tergerak di hati kita untuk mengasihi dan mencintainya juga? Sesungguhnya tidak ada manusia lain di dunia ini yang dapat memberi kasih sayang sebagaimana kasih sayang yang telah dibuktikan oleh Rasul kepada kita. Oleh itu, sangat sesuai bagi kita untuk berkorban, membuktikan kasih kita pada Rasul, dengan pengorbanan yang lebih besar daripada apa yang telah kita berikan kepada manusia lain. Hanya dengan cara itu saja baru terbukti bahwa kita mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain.
Bersabda Rasulullah SAW:
Terjemahan: Tidak beriman seseorang kamu sehingga ia mencintai saudaranya sama seperti ia mencintai dirinya sendiri.
(Riwayat Al Bukhari)
Semua orang Islam adalah saudara kita. Allah sendiri mengiktiraf hal itu dengan firman-Nya yang bermaksud:
(Riwayat Al Bukhari)
Semua orang Islam adalah saudara kita. Allah sendiri mengiktiraf hal itu dengan firman-Nya yang bermaksud:
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara.
(Al Hujurat: 10)
Sebagai saudara hendaklah kasih-mengasihi dan cinta-mencintai. Jangan ada hasad dengki dan buruk sangka. Pandanglah manusia lain sebagaimana kita memandang diri kita sendiri. Kalau kita suka dihormati, orang lain juga suka begitu. Kalau kita tidak mau dicaci-maki, orang lain juga tidak suka begitu.
(Al Hujurat: 10)
Sebagai saudara hendaklah kasih-mengasihi dan cinta-mencintai. Jangan ada hasad dengki dan buruk sangka. Pandanglah manusia lain sebagaimana kita memandang diri kita sendiri. Kalau kita suka dihormati, orang lain juga suka begitu. Kalau kita tidak mau dicaci-maki, orang lain juga tidak suka begitu.
Oleh itu hormatilah orang lain, dan usah dicari kekurangannya untuk diumpat dan dicaci. Kalau kita suka mencaci orang, orang lain pun akan suka mencaci kita, karena sebenarnya kita memiliki kelemahan dan kekurangan sebagaimana orang lain juga memiliki kekurangan dan kelemahan. Tidak ada seseorang pun dari kita yang tidak bersalah. Oleh itu untuk apa caci-mencaci dan dengki-mendengki. Tidak ada sedikit pun kebaikan yang diperoleh, yang ada adalah bertambahnya kebencian dan kemurkaan Allah pada kita. Begitulah maksud yang disabdakan oleh baginda Rasulullah SAW:
Terjemahan: Barang siapa yang tidak mengasihi sesama manusia, tidak akan dikasihi oleh Allah.
(Riwayat: At Tarmizi)
Dan kalau tidak dikasihi Allah, Nerakalah bagian kita. Apakah kita tidak takut dengan api Neraka lalu masih berani menggunakan mulut untuk mencaci-maki dan berhasad dengki dengan hamba-hamba Allah yang lain? Sepatutnya kita memiliki hati yang sudi bergembira di atas kejayaan orang lain dan sanggup bersusah karena bersama kesusahan orang lain. Itulah arti sahabat dalam pengertian yang sebenarnya. Tanda-tanda seseorang sahabat itu ada tiga:
(Riwayat: At Tarmizi)
Dan kalau tidak dikasihi Allah, Nerakalah bagian kita. Apakah kita tidak takut dengan api Neraka lalu masih berani menggunakan mulut untuk mencaci-maki dan berhasad dengki dengan hamba-hamba Allah yang lain? Sepatutnya kita memiliki hati yang sudi bergembira di atas kejayaan orang lain dan sanggup bersusah karena bersama kesusahan orang lain. Itulah arti sahabat dalam pengertian yang sebenarnya. Tanda-tanda seseorang sahabat itu ada tiga:
- Kalau kita salah, dinasihati penuh kasih sayang.
- Kalau kita tegur kesalahannya, diterima dengan baik.
- Semua kebaikan kita diikuti dan rahasia kita disimpan.
Dengan memenuhi tiga perkara di atas maka para Sahabat Rasulullah telah berjaya merekam sejarah gilang-gemilang yang patut kita banggakan hingga kini. Saya petik suatu kisah yang berlaku di zaman Sahabat semasa pemerintahan Sayidina Umar Ibnu Khattab untuk menunjukkan suasana hati manusia waktu itu dan bentuk kehidupan yang telah mereka lalui:
Seorang pemuda bernama Hassan keluar dari kampungnya dengan menunggang seekor unta untuk melakukan satu perjalanan yang jauh. Setelah lama menunggang kuda, dia keletihan lalu turun dari untanya dan bersandar di sebatang pohon lalu tertidur.
Setelah sadar dari tidur didapati untanya tidak ada. Hassan lalu terburu-buru mencari untanya itu. Dalam keadaan cemas dan bimbang, Hassan menemukan untanya, tetapi telah mati. Alangkah heran dan marahnya Hassan.
“Bapak yang membunuhnya,” kata seorang tua yang ada di sisi bangkai unta itu, “Tetapi tidak sengaja,” sambung orang tua itu lagi. “Ketika unta itu memakan tanaman Bapak, Bapak lontar dengan batu kecil. Betul-betul kena di kepalanya. Setelah itu ia berputar-putar, jatuh lalu mati.” Orang tua itu bercerita menerangkan kejadian yang sebenarnya.
Hassan dalam keadaan bingung karena terkejut dari tidur dengan tiba-tiba mencabut pedangnya dan diayunkan ke arah orang tua itu, maka terpenggallah leher dari badan.
Hassan seakan-akan baru bermimpi ketika tersadar dari kejadian itu dan menyesal yang teramat dalam. Hassan lalu mencari keluarga orang tua itu dan menceritakan segalanya.
Dua orang anak lelaki dari orang tua itu langsung membawa Hassan kepada Amirul Mukminin hari itu juga. Dan Hassan pun dihadapkan ke mahkamah pengadilan. Amirul Mukminin sendiri yang menjadi hakimnya. Dengan dihadiri oleh beberapa orang Sahabat, pembicaraan pun dijalankan.
Sayidina Umar selaku hakim setelah mendengar pengakuan Hassan sendiri, telah menjatuhkan hukuman bunuh terhadap Hassan. Mendengar itu Hassan berkata,
“Demi Allah, saya lebih sanggup dibunuh di dunia daripada mendapat hukuman Neraka di Akhirat. Tapi, wahai Amirul Mukminin, saya minta ditangguhkan hukuman itu dalam beberapa hari karena saya mohon untuk memberitahu ibu bapak saya, anak isteri dan sanak saudara tentang perkara itu. Mereka semua belum tahu dan karena jauhnya dari sini tentu mereka tidak akan tahu kalau saya tidak memberitahunya.”
“Demi Allah, saya lebih sanggup dibunuh di dunia daripada mendapat hukuman Neraka di Akhirat. Tapi, wahai Amirul Mukminin, saya minta ditangguhkan hukuman itu dalam beberapa hari karena saya mohon untuk memberitahu ibu bapak saya, anak isteri dan sanak saudara tentang perkara itu. Mereka semua belum tahu dan karena jauhnya dari sini tentu mereka tidak akan tahu kalau saya tidak memberitahunya.”
Karena tegas dan adilnya, Sayidina Umar menjawab, “Tidak. Tidak ada jaminan bahwa engkau datang lagi untuk menjalani hukuman itu.”
Hassan merayu lagi, “Kasihanilah saya tuan hakim. Semua orang yang mengasihi saya sedang menunggu kepulangan saya. Mereka tentu bertanya-tanya kalau saya tidak pulang memberitahu tentang perkara itu.”
Sekali lagi Sayidina Umar menunjukkan ketegasan dan keadilannya, “Tidak,” katanya.
Untuk yang ketiga kalinya Hassan merayu, tiba-tiba salah seorang Sahabat bangun dan berkata, “Sekalipun saya tidak kenal saudara Hassan, namun atas nama Sahabat Rasulullah, saya minta tuan hakim memperkenankan permohonan Hassan. Jika sekiranya Hassan tidak datang pada hari dijatuhkannya hukuman, maka biarlah saya yang dihukum.”
Dengan jaminan yang diberikan oleh Sahabat itu (Abu Zar), Sayidina Umar pun membenarkan hukuman itu ditangguhkan. Kemudian Hassan dibenarkan pulang setelah menentukan tarikh (tanggal) akan datang.
Sesampai di rumah, Hassan langsung memberitahu keluarganya tentang apa yang berlaku dan berkata, “Biar saya jalani hukuman di dunia dari hukuman di Akhirat.”
Menangislah ibu bapak dan anak isterinya. Tetapi Hassan tidak patah semangat. Kuda terus dipacunya menuju ke tempat pengadilan. Dia lebih takut pada Allah daripada anak isterinya. Dia lebih cinta Akhirat daripada dunia.
Di tengah jalan tiba-tiba tali pacu kudanya putus. Hassan cemas kalau-kalau karena itu dia sampai terlambat. Walaupun dengan susah payah, Hassan dapat membetulkan tali kekang kudanya dan akhirnya dapat meneruskan perjalanannya. Tetapi sudah terlambat.
Di padang, tempat hukuman akan dijalankan, semua yang menanti sangat cemas karena keterlambatan Hassan. Mereka mencemaskan Abu Zar yang terpaksa menggantikan tempat Hassan.
Dalam suasana kecemasan yang memuncak, tiba-tiba di kejauhan semua yang hadir nampak kuda pacuan berlari kencang berderap-derap menuju ke tempat itu. Setelah yakin bahwa yang datang adalah Hassan mereka meneriakkan, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Suasana tiba-tiba bertukar menjadi sedih dan terharu. Betapa jujurnya Hassan memegang janjinya sekalipun nyawanya akan melayang.
Setelah turun dari kudanya, Hassan menghadap tuan hakim dan berkata, “Demi Allah, saya tidak berniat untuk menyengajakan keterlambatan itu. Tali kuda saya putus di tengah padang pasir. Berbagai cara saya usahakan mencari tali untuk menyambungnya. Alhamdulillah, saya dapat dan selamat tiba ke sini, tuan hakim.” Kemudian katanya lagi, “Sebelum saya dibunuh, izinkan saya shalat dua rakaat.”
Sayidina Umar pun membenarkan. Dalam doa akhirnya, Hassan berdoa,“Ya Allah, ampunkan kelalaianku di dunia dan di Akhirat.”
Selesai menyapu muka, Hassan pun menghadap, menyerahkan dirinya untuk menjalani hukuman mati. Tetapi, pada saat yang genting itu tiba-tiba dua bersaudara anak dari orang tua yang mati dibunuh, menghadap tuan hakim dan berkata, “Kami telah menyaksikan kejujuran dan keikhlasan saudara Hassan dan telah kami saksikan juga keberanian dan kasih sayang saudara Abu Zar. Juga telah kami saksikan ketegasan dan keadilan Amirul Mukminin menjalankan hukuman Tuhan. Hasilnya, kami memperoleh kekuatan untuk meredhakan kematian ayah kami dengan memaafkan saudara kami Hassan. Lepaskanlah saudara Hassan dari hukuman, wahai Amirul Mukminin.”
Mendengar itu sekali lagi padang itu bergema dengan seruan, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Mereka semua bersyukur karena terampunnya seorang saudara mereka dari hukuman di dunia dan di Akhirat. Insya Allah.
Banyak yang dapat kita pelajari dari peristiwa bersejarah itu. Dari seorang tua yang berani mengaku salah hingga menemui kematian. Kemudian Hassan yang lebih berani mengakui kesalahannya dan menyerahkan diri untuk dibunuh. Kemudian Abu Zar yang berjiwa ‘sahabat’ dan sanggup mati karenanya. Tuan hakim yang tegas dan adil. Akhir sekali dua bersaudara yang berhati mulia merelakan dan memaafkan pembunuh ayah mereka.
Dengan hati yang beriman dan berkasih sayang, manusia di zaman Sahabat telah menempuh satu sejarah yang agung. Dan dengan hati-hati yang beriman, mereka telah berjaya mengangkat Islam setinggi-tingginya sesuai dengan sifatnya. Dengan itu mereka bukan saja telah menguasai dunia, tetapi sedang menikmati Alam Barzakh dan akan Allah anugerahkan Syurga. Itulah nasib orang yang bernama mukmin yang sebenarnya. Sekarang Allah takdirkan giliran kita untuk menentukan nasib dan harga diri.
Dengan hati yang beriman dan berkasih sayang, manusia di zaman Sahabat telah menempuh satu sejarah yang agung. Dan dengan hati-hati yang beriman, mereka telah berjaya mengangkat Islam setinggi-tingginya sesuai dengan sifatnya. Dengan itu mereka bukan saja telah menguasai dunia, tetapi sedang menikmati Alam Barzakh dan akan Allah anugerahkan Syurga. Itulah nasib orang yang bernama mukmin yang sebenarnya. Sekarang Allah takdirkan giliran kita untuk menentukan nasib dan harga diri.
Semoga peluang itu kita gunakan sebaik-baiknya untuk mengikuti jejak langkah mereka yang mulia serta diredhai untuk turut menikmati kejayaan dan kenikmatan yang telah dan sedang mereka nikmati.
Terlalu banyak hadits-hadits yang menunjukkan pada kita segala ciri-ciri manusia mukmin yang sebenarnya. Saya kira kalau semua hadits itu hendak disalin dan dibicarakan di sini, tentu tidak sesuai dengan judul buku ini. Oleh karena itu akan saya ringkaskan maksud sebagian dari hadits-hadits itu.
Rasulullah SAW mengajarkan:
- Hubungkan tali persaudaraan kalau saudaramu itu memutuskannya. Berbuat baiklah terhadap orang yang tidak menyukaimu. Kata-katamu hendaklah senantiasa benar, kalau diam, diam mu itu hendaklah berpikir, memikirkan Tuhanmu dan apa yang telah diciptakan-Nya.
- Hendaklah manusia itu hidup dengan usaha sendiri, berniaga atau bertukang dan lain-lain. Nabi pernah berkata pada seorang peminta sedekah supaya ia pergi mencari kayu di hutan dan dijualnya daripada ia meminta-minta hingga hilang nilai kemanusiaannya.
- Tuhan akan memberi berkat-Nya pada siapa saja yang bersungguh-sungguh, dan di Akhirat akan diberi-Nya pahala, terutama pada orang yang berjuang menegakkan kebenaran agama-Nya.
- Menuntut ilmu pengetahuan yang hak adalah jihad, mengatakannya adalah zikir, membicarakannya adalah khusyuk pada Tuhan dan mengajarnya adalah derma dan pengorbanan. Sebab ilmu pengetahuan adalah alat yang dapat melepaskan manusia dari keragu-raguan dan dapat mendekatkan manusia dengan Allah.
- Katakanlah yang benar sekalipun mengenai diri sendiri. Tepatilah janji kalau engkau berjanji. Janganlah khianat. Lawanlah keinginanmu kalau ia mengajak menyimpang dari syariat. Jangan hasad dengki, cucilah mulut dan tanganmu dari kekotoran hasad dengki dan penganiayaan sesama manusia. Haram bagimu memberitakan cacat saudaramu, haram juga membongkar rahasia dan noda yang dilakukan oleh orang lain.
- Gembirakanlah orang yang duka cita. Bantulah orang yang kesusahan. Ringankanlah orang yang berhutang. Karena orang yang meringankan berat saudaranya, maka Tuhan akan meringankannya di Hari Kiamat.
- Manusia yang dicintai Allah adalah orang yang banyak memberi kebaikan kepada orang lain. Sebab dalam pandangan Allah, manusia itu sama saja kecuali orang-orang yang takwa dan lebih banyak kebaikannya sesama manusia. Berilah makan orang yang lapar. Berilah minum orang yang kehausan. Ziarahilah orang yang sakit dan maut. Dan beradab sopanlah dengan semua lapisan manusia.
- Segala amalan yang baik adalah derma dan sedekah. Memberi senyuman pada manusia adalah sedekah. Nasihat yang baik adalah hadiah. Menunjukkan jalan pada yang tidak tahu adalah pengorbanan. Dan membuang duri dari jalan adalah pemberian yang mahal.
Itulah ringkasan sebagian dari maksud sabda Rasulullah SAW. Semuanya adalah pengajaran yang baik, dimana kalau ada orang yang dapat melaksanakan semua ajaran baginda itu, akan menjadi mukmin yang sebenarnya. Dan kalau apa yang dikehendaki oleh baginda Rasulullah SAW itu dapat diamalkan dalam sebuah keluarga maka keluarga itu menjadi keluarga mukmin. Seterusnya kalau ajaran Rasulullah itu dapat diterapkan ke dalam masyarakat, akan lahir masyarakat yang mukmin. Individu, keluarga atau masyarakat yang mukmin adalah manusia-manusia yang sempurna, yang akan berjaya dan bahagia di dunia dan Akhirat.
Menilik ke dalam diri sendiri dan anggota masyarakat manusia kini kita tentu belum menjadi mukmin sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh itu perlulah diusahakan agar kita dapat mencapainya dengan cara-cara dan langkah-langkah yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah (telah saya bentangkan serba sedikit didalam buku ini). Semoga Allah SWT merestui usaha kita itu dan semoga kita diizinkan-Nya untuk mencapai apa yang diperintahkan-Nya.
Sumber : Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad Attamimi, “Iman dan Persoalannya”
*****************************************************************

Tidak ada komentar:
Posting Komentar