Minggu, 22 Mei 2011

HUKUM BID’AH

Mukaddimah


Bilamana seorang Muslim ingin amalannya diterima oleh Allah Ta'ala, maka hendaknya dia melakukannya sesuai dengan yang diperintahkan-Nya dan Rasul-Nya dan tidak mengada-adakan sesuatu ibadahpun dengan mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya padahal tidak ada landasannya.
Sebab, amalan seperti ini pasti tertolak karena termasuk perbuatan bid'ah. Nah, apa hukumnya bid'ah itu? Dan apa implikasinya?


Naskah Hadits
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أحْدَثَ فيِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ.
وفي رواية لمسلم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Dari 'Aisyah radliyallâhu 'anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari'atkan), maka ia tertolak." (HR.al-Bukhari)
Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak."

Urgensi Hadits
Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata, "Hadits ini layak sekali untuk diingat dan dijadikan sebagai saksi/bukti terhadap kebatilan semua perbuatan munkar."

Beberapa Arahan Hadits
  • Hadits ini mengandung makna bahwa Dienullah adalah dien yang sempurna, tidak menerima penambahan ataupun pengurangan. Dan inilah yang dapat disimpulkan dari firman-Nya (artinya), "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu." (Q.s.,al-Mâ`idah:3). Oleh karena itu, wajib bagi seorang Muslim untuk mengamalkan wahyu yang berasal dari Allah melalui Rasul-Nya, tanpa menambah atau menguranginya.

     
  • Barangsiapa yang menambahkan sesuatu ke dalam Dienullah padahal bukan berasal darinya, maka ia tidak diterima di sisi Allah dan tertolak atas pelakunya. Barangsiapa, misalnya, yang beribadah kepada Allah Ta'ala dengan melakukan shalat yang tidak disyari'atkan-Nya, maka ia tidak akan diterima, pelakunya berdosa dan dijuluki sebagai Mubtadi' (pelaku bid'ah).

     
  • Seorang Muslim wajib menyuriteladani Rasulullah di dalam semua perbuatan, prilaku dan tindakannya.

     
  • Hukum asal di dalam semua praktik ibadah itu adalah bersifat Tawqîfiyyah. Artinya, bahwa pentasyri'an (penggodokan syari'at) hanya sebatas apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, disertai penyerahan diri atas hal itu dan meyakini amalan ini sebagai pembawa kebaikan yang mutlak, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini, Allah Ta'ala berfirman (artinya), "Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Q.s.,an-Nisâ`:65)

     
  • Suatu ibadah tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat:
    Pertama, Menjadikannya ikhlash semata-mata karena Allah Ta'ala.
    Kedua, Hendaknya ia sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits dalam kajian ini.

     
  • Siapa saja yang telah keluar dari manhaj Ittibâ' (mengikuti) Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam maka berarti dia telah masuk ke dalam manhaj Ibtidâ' (berbuat bid'ah) dan Ihdâts (mengada-ada) di dalam agama. Padahal Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam telah bersabda (artinya), "Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka." (HR.an-Nasa`iy dari hadits yang diriwayatkan Jabir bin 'Abdullah)

     
  • Diantara implikasi dari perbuatan Bid'ah adalah:
       
    • Menuduh Rasullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam telah menyembunyikan sesuatu terhadap umat manusia dengan tidak menyampaikannya kepada mereka.
       
    • Siapa saja yang berjalan di atas rel manhaj Ibtidâ' , berarti dia telah menganggap baik manhaj ini dan telah menjadi orang yang menambahi sesuatu yang tidak diizinkan Allah di dalam dien-Nya.
       
    • Pelaku bid'ah selalu berupaya keras di dalam mengamalkan kebid'ahannya dan hal ini semua akan hilang percuma bahkan akan menjadi dosa yang akan dipikulnya kelak.
(SUMBER: Silsilah Manâhij Dawrât al-'Ulûm asy-Syar'iyyah
-al-Hadîts- Fi`ah an-Nâsyi`ah- karya Prof.Dr.Fâlih bin Muhammad ash-Shaghîr, et.ali., h.56-58)

Sabtu, 21 Mei 2011

Macam-Macam Iri Hati atau Dengki dan Sebab-Sebabnya

Bismillahirrahmanirrahim...

Artikel kali ini, kita akan membahas masalah kenapa manusia didalam hatinya terdapat sifat tercela, yaitu iri hati atau dengki. Orang yang memiliki sifat iri hati atau dengki, biasanya terlihat dari raut wajahnya yang berasal dari dalam hatinya jika melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, seperti rejeki yang berlimpah, harta yang banyak, atau ketika ada orang lain atau tetangganya membeli sesuatu yang menurutnya bahwa tetangga itu tak layak atau dia menganggap tetangganya itu tidak mampu, misalnya tetangganya itu membeli televisi. Karena adanya sifat iri dan dengki, dia berusaha untuk mencari tahu dari mana tetangganya itu dapat membeli televisi dan bahkan mencoba untuk menghilangkan dengan cara menyebarkan berita bohong kepada orang lain dengan mengatakan si anu itu dari mana ia mendapatkan uang untuk membeli televisi, padahal ia adalah seorang pemulung untuk makan saja ia susah dan yang terlebih parah lagi orang yang memiliki penyakit iri dan dengki, hidupnya menjadi susah hati, apabila ada orang lain yang didengki itu memperoleh kenikmatan, tetapi sebaliknya akan senang jika melihat orang lain mendapat kesusahan. Orang yang seperti ini sama dengan tertawa diatas penderitaan dan merasa khawatir dan takut apabila ada orang lain memperoleh kesuksesan atau kebahagiaan. Iri hati atau dengki itu adalah salah satu sifat yang disebabkan oleh kemengkalan dalam hati atau biasa disebut hiqiq, tetapi ada juga dengki yang disebabkan oleh sebab-sebab yang lain, yaitu :
1. Tidak merasa senang kepada seseorang lantaran orang itu mempunyai beberapa kenikmatan dan ia mengharap agar supaya kenikmatan orang itu hilang dari padanya. Orang yang memiliki sifat iri hati dan dengki ini dapat menyebabkan orang yang dihinggapi penyakit ini akan melakukan bermacam-macam kemaksiatan dan kemungkaran kepada orang yang didengkinya itu, seperti merusak kehormatannya, yaitu mengumpatnya, membuka aib atau rahasianya, mengadu domba, bahkan memfitnah.
2. Tidak mengharapkan lenyapnya kenikmatan itu dari orang yang ia dengki, namun ia mengharap agar dirinya juga mendapatkan kenikmatan sebagaimana yang dimiliki orang ia dengki itu. Nah perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang tercela dan berdosa. Namun kita juga perlu mengetahui, bahwa iri hati atau dengki ini ada juga dianggap perbuatan yang baik, sebagaimana Rasulullah menerangkan dalam haditsnya yang berbunyi :
" Tidak ada yang diperbolehkan dalam hasad (dengki) itu, melainkan dalam dua perkara, yaitu seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia membelanjakannya untuk apa-apa yang haq (kebenaran) sehingga habisnya (umur atau hartanya) dan orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan oleh Allah, kemudian ia mengamalkan ilmunya itu dan mengajarkannya kepada para manusia."
Dari keterangan hadits diatas maksudnya dengki yang bertujuan untuk mencontoh dan ia tidak mengharapkan kenikmatan orang lain hilang dari pemiliknya, namun untuk menjadikan contoh bagaimana bisa menuruti perbuatan orang itu, misal ada orang yang kaya, tetapi dermawan, taat beribadah, banyak bersedekah dan hartanya habis untuk dibelanjakan di jalan Allah, atau ada orang yang alim memiliki ilmu pengetahuan, tetapi tidak pelit dan suka mengajarkan ilmunya kepada orang lain tanpa memharap sesuatu imbalan. Nah dengki seperti ini disebut ghibthah atau keinginan untuk mencontoh perbuatan orang lain. Dan orang seperti ini akan berusaha untuk berlomba-lomba dalam kebaikan bukan kedengkian. Sebab-sebab timbulnya penyakit iri hati atau dengki, biasa disebabkan oleh karena adanya permusuhan dan kebencian. Dan yang inilah adalah sebab utama yang merupakan timbulnya penyakit iri hati atau dengki, beratnya rasa dalam hati apabila dirinya itu ada yang melebihi dirinya dala hal apa saja, seperti rezeki, ilmu, dan lain-lain, gemar menjadi pemuka dan gemar pula kepada pangkat dan kedudukan yang tinggi serta suka dipuji dan dihormati orang lain, jadi jika ada orang yang ingin menyainginya akan disingkirkan, terlebih lagi orang tersebut juga orang terpandang, berilmu, dll, dan yang terakhir karena hatinya memang buruk, yaitu sifat ini telah sudah ada sejak lahir, sehingga ia enggan untuk melakukan kebaikan kepada sesama manusia. Orang yang mempunyai sifat iri dan dengki dapat membahayakan keagamaanya, karena orang yang dengki itu seolah-olah tidak rela kepada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah swt, mengapa bukan dirinya yang mendapat kenikmatan atau kemuliaan itu, adapun bahaya yang dalam disebabkan oleh orang yang mempunyai sifat iri dan dengki ini, ialah orang yang mendengki ini hatinya selalu panas, selalu susah dan berduka cita dan tersiksa jiwanya, setiap kali ia ingat kepada orang yang dianggapnya musuh atau saingannya itu, padahal belum tentu orang yang ia dengki itu memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.
Wassalam...
**************************************************************

RIDHO ALLAH

Seorang Muslim senantiasa mengharapkan Ridho Allah dalam setiap sepak terjang aktifitasnya. Sebab ia tahu bahwa hanya dengan memperoleh Ridho Allah sajalah hidupnya menjadi lurus, terarah dan benar. Seorang Muslim yang mengejar Ridho Allah berarti menjadi seorang beriman yang ikhlas. Orang yang ikhlas dalam ber’amal merupakan orang yang tidak bakal sanggup diganggu apalagi dikalahkan oleh syetan. Allah menjamin hal ini berdasarkan firmanNya dimana dedengkot syetan saja, yakni Iblis, mengakui ketidak-berdayaannya menyesatkan hamba-hamba Allah yang mukhlis.


قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ


وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS Al-Hijr ayat 39-40)

Orang-orang yang telah menjadikan Ridho Allah semata sebagai tujuan hidupnya tidak mungkin dapat disimpangkan dari jalan yang benar. Mereka tidak mempan di-iming-imingi dengan kenikmatan apapun di dunia ini. Sebab mereka sangat yakin bahwa kenikmatan jannah (surga) yang Allah janjikan bagi mereka tidak bisa disetarakan apalagi dikalahkan oleh kenikmatan duniawi bagaimanapun bentuknya. Harta, tahta maupun wanita tidak mungkin mereka dahulukan daripada kenikmatan ukhrawi surgawi yang Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sendiri gambarkan sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّه

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ

وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Allah berfirman: “Aku telah sediakan untuk hamab-hambaKu yang sholeh apa-apa yang tidak pernah mata memandangnya, dan tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak pernah terbersit di dalam hati manusia.” ( HR Bukhary)

Hamba-hamba Allah yang mukhlis kebal terhadap berbagai ancaman manusia berupa siksa dan penderitaan duniawi apapun, karena bagi mereka tidak ada yang lebih menakutkan daripada ancaman Allah berupa siksa dan penderitaan hakiki di dalam neraka akhirat kelak. Mereka memiliki sikap seperti sikap para tukang sihir Fir’aun yang semula loyal kepada penguasa zalim tersebut, namun setelah menyaksikan betapa unggulnya kekuatan Allah lewat performa NabiNya Musa, maka akhirnya mereka bertaubat. Mereka selanjutnya meninggalkan (baca: baro’ alias berlepas diri dari) Fir’aun dan tidak menghiraukan ancamannya bagaimanapun bentuknya:

قَالَ آَمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آَذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ

”Fir`aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya". Mereka berkata: "Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman". (QS Asy-Syuara ayat 49-51)

Orang-orang yang sibuk menggapai Ridho Allah semata dalam hidupnya sangat meyakini bahwa hanya Allah sajalah yang patut di jadikan prioritas utama kecintaan, kepatuhan dan rasa takut. Mereka berusaha untuk selalu mendahulukan Allah dalam setiap gerak-gerik hidupnya. Mereka sangat benci menyekutukan atau menduakan apalagi men-tigakan Allah, Rabbul’aalamiin. Sebab mereka sangat yakin bahwa Allah sajalah Raja di langit dan Raja di bumi. Sehingga dalam menyerahkan kecintaan, kepatuhan atau rasa takut kepada selain Allah mereka tidak akan pernah mau menyetarakan apalagi mendahulukan selain Allah. Sikap mereka kepada para pemimpin dan pembesar dunia adalah sikap yang sangat proporsional. Mereka hanya mau mentaati pemimpin yang senantiasa mengajak kepada meraih Ridho Allah juga. Namun bila pemimpin yang ada malah mengalihkan mereka dari mengejar Ridho Allah, maka bagi orang-orang mukhlis Ridho Allah jauh lebih utama didahulukan.

Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa jalan hidup yang sepatutnya dilalui hanyalah jalan hidup yang mendatangkan keridhoan Allah. Sedangkan Allah telah menegaskan bahwa hanya Islam-lah jalan hidup atau dien yang diridhaiNya.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

”Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran ayat 19)

Sedemikian yakinnya kaum mukhlisin akan kebenaran pernyataan Allah di atas, sehingga di dalam hati mereka tidak tersisa lagi cadangan kepercayaan akan jalan hidup lainnya. Sebab semua jalan hidup lainnya bukan dari Allah yang mereka senantiasa kejar keridhaanNya. Jalan hidup lainnya hanyalah jalan hidup palsu bikinan manusia yang seringkali dihiasi dengan nafsu dan sikap zalim serta keterbatasan ilmu alias jahil atau bodoh. Orang-orang mukhlis tidak lagi menyisakan di dalam diri mereka kepercayaan akan Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme, Kapitalisme, Sosialisme, Komunsime, Humanisme, Hedonisme apalagi Demokrasi. Semua jalan hidup itu bagi mereka tidak menjamin akan mendatangkan keridhoan Alllah. Padahal mereka sudah sangat yakin bahwa hidup tanpa keridhoan Allah adalah kehidupan yang merugi dan penuh ke-sia-siaan.

Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya teladan dan prototype sempurna yang wajib diteladani segenap sepakterjang perjuangannya. Bilamana menempuh jalan uswah tersebut berakibat kepada munculnya kehidupan yang penuh kesulitan dan jalan mendaki, maka mereka dengan rela hati akan menempuhnya. Bila karena meneladani Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam

mereka harus mengalami pengucilan dan stigma negatif dari kebanyakan manusia, maka mereka dengan sabar terus menempuhnya. Tidak sedikitpun rayuan dan iming-iming maupun ancaman dan black campaign fihak musuh dapat menyimpangkan mereka dari jalan hidup teladan utama ini. Karena kaum mukhlisin sangat yakin bahwa menegakkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya jalan untuk meraih keridhoan Allah.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab ayat 21)

Sedangkan meninggalkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam hanya akan mengantarkan mereka kepada kesenangan sementara dunia namun mengakibatkan penderitaan abadi dan hakiki di dalam kehidupan akhirat kelak nanti. Apalah artinya ”seolah berjaya” sebentar di dunia untuk kemudian merugi dan menyesal selamanya di akhirat. Lebih baik bersabar sebentar di dunia untuk menikmati kesenangan dan kebahagiaan sejati lagi abadi di kampung halaman jannatun-na’iim.


Maka para pemburu Ridho Allah setiap hari senantiasa memperbaharui komitmen mereka dengan mengikrarkan di dalam dirinya kalimat “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Nabi”. Pengulangan ikrar harian ini menjadi sangat penting sebab ia merupakan salah satu jalan untuk memastikan bahwa Ridho Allah menyertai mereka ketika sudah berjumpa Allah di hari Kiamat atau hari Berbangkit. Demikianlah anjuran Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummatnya sebagaimana diterangkan di bawah ini:


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim yang membaca di pagi hari dan di sore hari sebanyak tiga kali “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ahmad)

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ

حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا

إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim atau seorang manusia atau hamba yang membaca di sore hari dan di pagi hari: “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah)
 *************************************************************************

Senin, 02 Mei 2011

ISLAM AGAMA PENGAWAL PRILAKU MORAL PEMELUKNYA


Post Page Rank
Agama islam mementingkan kualitas amal. Seseorang harus terlihat pada moralnya dalam berhubungan dengan Allah SWT. Sesama alam semesta. Kualitas hubungan menaik dengan Allah harus tampak pula pada dimensi hubungan mendatar dengan sesama makhluk dan dengan lingkungan alam. Harmonis hubungan tiga dimensi ini merupakan syarat tegaknya bangunan moral yang akan bertahan lama termasuk didambakan, akan berkembang di bumi.Dalam perspektif diatas seseorang menghindari bahwa ia telah meiliki hubungan baik dengan Allah jika pergaulannya dengan sesama umat dimuka bumi berada dalam kondisi kumuh dan penuh curiga.
Al-Quran menegaskan : ”Ditimpakan kehinaan atas diri mereka dimana pun berada, kecuali (mereka yang bergantung) dengan tali Allah dan tali manusia”.(Q.S.Ali-Imran :112). Sesungguhnya ajaran agama yang fungsional dengan demikian adalah yang mampu menjaga hubungan erat dengan Allah serta dirasakan pula sentuhan positifnya pada dimensi mendatar dalam format persaudaraan yang ikhlas tulus antar pemeluk beriman.Agama yang benar-benar fungsional adalah agama yang mampu mengawal prilaku moral pemeluknya ialah Islam yang kamil(sempurna).Agama yang disalah gunakan untuk membela kepentingan seseorang, secepatnya dimasukkan kedalam museum sejarah.
Selanjutnya bila kondisi moral seseorang diteropong dengan lebih cermat tidaklah salah disimpulkan bahwa agama belum berfungsi secara benar dan efektif dengan kehidupan kolektif secara keseluruhan.Terlalu banyak penyimpangan bahkan kejahatan moral, tidak jarang atas nama kebenaran. Ini tidak lain dari perbuatan orang menginjak kebenaran hakiki untuk kepentingan-kepentingan rendah sesaat tanpa merasa berdosa dan menyesal, tidak terpikirkan hidup sesudah mati di akhirat semuanya akan dipertanggung jawabkan secara terinci satu persatu.Perbuatan seseorang mencabuli apa yang dikatan terjadi keretakan antara kata dan laku. Allah menegur : ” Mengapa kamu berkata tentang sesuatau kata apa yang akamu tidak kamu lakukan “.(Q.S. Ash-Shaff :2-3).
Teguran ini sudah disampaikan sejak puluhan abad yang lalu, beralamat terhadap pemeluk beriman. Iman bukan untuk digembur-gemburkan, tetapi untuk dibuktikan dalam perbuatan baik yang dirasakan semua orang.
Perbuatan baik inilah yang menjadi indikator utama, apakah seseorang beriman atau tidak, yaitu beriman secara autentik, bukan iman yang dibungkus dalam jubah kepalsuan, iman basa-basi. Agama yang fungsional adalah agama yang mampu mengawinkan antara spiritual dengan perbuatan baik dan mulia dalam kehidupan bersama.
Agama Islam sebagai agama rahmat, berarti Islam an pemeluknya senantiasaa jadi pengawal prilaku moral pemeluknya. Bukan Islam yang erat kepentingan politik dan pribadi. Islam sebagian pemeluknya menjadi gamang kapan prilaku moral kurang mencerminkan moral mulia. “ Wama arsalnaka ill rahmatan lilla’lamin”. ” Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk(menjadi) rahmat begi semesta alam :”(Q.S. Anbiya : 107). Sesungguhnya umat pengikut yang mulia Muhammad SAW. Dapat menunjukkan diri dan ditengah kehidupan bersama jadi rahmat. “Sebaik-baiknya manusia yang ada manfaatnya bagi orang lain”. (Hadis Bukhari).
Jika ada masalah diselesaikan secara ikhlas dan islah dibungkus moral mulia diterima semua pihak sebagaimana layaknya pengikut Muhammad Rasulullah SAW. Bukan membesar-besarkan menjadi sesuatu yang semakin rumit dan gaduh.
Posted by Bakhtiar Khatib
 **************************************************************************

Powered By Blogger