Saya percaya pada keyakinan kuat yang tertanam dalam diri saya. Berkat motivasi yang bertambah kuat setiap saat. Apapun yang saya percaya bisa dapatkan, saya yakin bisa saya dapatkan. Saya menciptakan “keberuntungan” saya tiap hari. Saya mencapai tujuan-tujuan saya dengan penuh riang gembira. Saya visualisasikan apa yang saya inginkan dan saya melakukan ACTION seperti dalam visualisasi tersebut. Dengan keyakinan ini saya bisa mewujudkan kenyataan apapun yang saya mau.
Senin, 27 Juni 2011
Sabtu, 25 Juni 2011
Rabu, 01 Juni 2011
Mengumpulkan Bekal Akhirat
Post Page Rank |
Mengumpulkan Bekal Akhirat.
Allah SWT berfirman.” Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?. ( Qs Al An’am : 32).
Diceritakan ketika Nabi Nuh as akan meninggal dunia, bertanyalah para sahabatnya. Bagaimanakah engkau merasakan hidup ini wahai nabi Allah ?. ( mereka wajar bertanya seperti ini karena nabi Allah nuhlah yang memiliki umur paling panjang mencapai 950 tahun ). Nabi Nuh menjawab”aku merasa bahwa hidup ini hanyalah sebagai sebuah rumah yang memiliki dua daun pintu, yang aku masuk dari pintu yang satu lalu keluar dari pintu yang satunya lagi.
Merujuk dari firman Allah dan cerita disaat nabi nuh akan meninggal dunia diatas, akan tergambar bagi manusia yang berfikir bahwa arti kehidupan ini hanya bersifat sementara ( relatife ). Semua bentuk permainan dan perlombaan yang ada didalamnya hanyalah senda-gurau belaka. Namun sayang hanya sebagian manusia yang mau terlibat dalam pemahaman ini, sedangkan sebagian yang lain semakin dibuai oleh nikmatnya ayunan dunia ini. Allah SWT telah memberikan kesempatan dan peluang pada segenap manusia, tapi kesempatan yang sangat bernilai ini tidak mempengaruhi sedikitpun mata hati manusia itu untuk kembali pada jalan yang benar. Manusia Islam khususnya, tidak dilarang meraih suatu keinginan apapun bentuknya, asal cara-cara untuk mendapatkannya harus sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul, melalui pemahaman dari dua pedoman hidup manusia (al quran dan hadis SAW). Inilah yang disebutkan dalam ajaran Islam dengan Tawazun/Mutawazun (menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan kepentingan untuk akhirat ).
Kalau ditelusuri lebih dalam ada dua kenikmatan yang telah diberikan Allah yang sering kali ter- dan diabaikan umat Islam sekarang ini, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan waktu. Dua nikmat ini sangat besar kontribusinya dalam melahirkan arti hidup bagi umat manusia secara umum. Manusia itu hidup dalam lorong waktu, diantara senang dan susah dan diantara untung dan merugi. Artinya, kerugian yang bersumber akibat terlalu digiurkan oleh godaan dunia semata, sehingga dengan Allah semakin jauh. Sedangkan bagi yang beruntung adalah selalu merajut tali-temali sang waktu ini dengan sebaik-baiknya, menjadikan dunia ini sebagai bekal bagi kehidupan akhirat yang abadi.
Kita harus menyakini bahwa suatu saat dunia ini pasti akan dilipat oleh yang empunyanya yaitu Allah SWT, itulah hari kiamat dimana tempat segala perilaku diminta pertanggungjawabannya. Sebelum itu, setiap yang bernyawa akan mengalami kematian. Dijelaskan, seperti apapun kehidupan seseorang sesungguhnya suatu saat ia pasti akan mati. Orang yang sehat akan mati, yang sakitpun demikian, orang kaya dan miskin, orang pandai dan bodoh pun akan mati, rakyat jelata, penguasa, pejabat, politikus, tentara, koruptor, penyuap siapapun dan apapun status orang tersebut bahkan malaikatpun tak akan luput dari kematian. Kita akan dibalas sesuai dengan amal perbuatan, maka sudahkah setiap diri mempersiapkan bekal untuk menyambut kematian itu ?.
Al Quran yang merupakan panutan hidup banyak menyebutkan perihal maut dan hari akhir ini diantaranya Al Qiamah, Ash Shaakhkhah, Ath Thamah, Al Waqiah dsb. Apa yang diinformasikan secara berulang-ulang tersebut mengisyaratkan bahwa kehidupan manusia bukan diatas dunia ini saja. Kematian dan kiamat merupakan pintu dari awal kehancuran seseorang plus alam semesta ini. Berfirman Allah.” Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” ( Qs Yasin-54 ).
Tidak semua orang yang mau memahami hal ini orang-orang yang ingkar dan kufur mengangap kejadian besar hari kiamat hanya sebagai fenomena alam semata, malah mereka berfikir akan bisa menyaksikan peristiwa yang maha dahsyat ini. Pernyataan mereka ini dibantah lansung oleh Allah dalam Qs Yasin 49-50.” Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.”
Allah yang memiliki kekuasaan penuh terhadap alam semesta ini memberitakan kiamat itu tidak akan datang melainkan dengan tiba-tiba, tidak dijelaskan hari, tanggal atau jamnya. Karna itu jangan menunggu datangnya hari tua untuk beribadah, persiapkanlah bekal itu sejak dari sekarang. Ingatlah arus dunia ini memang sangat kuat, kitapun menyadari tak ingin hidup merugi dan sengsara, kesempatan hidup senang yang ditawarkanpun tak kuasa kita tolak. Namun sebagai orang yang berilmu dan berakal kitapun tidak ingin menjual kepentingan akhirat yang hakiki demi memenuhi ambisi duniawi yang kenikmatannya hanya sesaat.
Zahid Yahya bin Muadz pernah berpesan.” Penolakan kebenaran yang bersumber dari Allah merupakan tindakan yang tidak mulia, mengutamakan dunia atas akhirat itupun sangat tidak bijaksana.” Artinya, hanya manusia yang hina dan bodohlah yang selalu melihat pada masalah syahwat belaka tampa mau memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya. Alangkah meruginya kita disaat menghadap Allah dalam situasi seperti ini, ketika sang maut atau kiamat datang kita sedang asyik bersantai dengan segala hal yang tidak bermanfaat, kita akan menyesal nantinya namun penyesalan disaat itu tidak akan berguna sama sekali.
Biasanya orang seperti yang disebutkan diatas akan meminta penangguhan kematian ketika bertatap muka dengan Malaikat Maut. Qs Al Munafiqun – 10 menguatkan akan hal ini.” Ya tuhanku mengapa Engkau tidak menangguhkan ( kematian )ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh”.
Kita diingatkan untuk selalu mengenali dan menyadari akan kuatnya gelombang nafsu dunia ini, sadarilah selalu bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara yang sarat badai fitnah yang bisa menghancurkan hidup jika semakin dilalaikan oleh gemerlapnya. Membeli kehidupan dunia bukan untuk kepentingan akhirat inilah bencana dan malapetaka terbesar yang dialami umat saat ini, yang akhirnya menyeret pada kemaksiatan. Bukan tidak mungkin akan menjadi penutup usia yang diberikan Allah selama ini. Zainal Abidin Ali bin Husein pernah ditanya.” Siapakah orangnya yang paling terancam bahaya ?” Ia menjawab, ”adalah orang yang tidak mau melihat dunia sebagai bahaya untuk dirinya”. ( Uyun Akhbar 2/230).
Segera lari dari kehidupan dunia ini adalah tindakan yang paling tepat dilakukan saat ini, lari dalam artian tidak meninggalkannya secara keseluruhan kemudian membiarkannya dikuasai oleh orang-orang penghamba nafsu untuk dipergunakan sekehendak hatinya. Sementara kita lebih memilih hidup miskin dari pada kaya. Maksudnya adalah tidak selalu menempatkan dunia diatas kepentingan akhirat, tidak menyempatkan aktifitas dunia dengan mengesampingkan aktifitas untuk akhirat. Jadikanlah kehidupan dunia ini sebagai kendaraan yang pas untuk senantiasa meyelusuri lorong-lorong menuju ridha Allah SWT.
Sesungguhnya jika seluruh umat manusia dipermukaan bumi ini beriman pada Allah, tidaklah akan mempengaruhi akan keagungan Allah. Dan sebaliknya, Allah tidak akan rugi secuilpun jikalau manusia seluruhnya mengingkari-Nya. Manusialah yang butuh amal shaleh sebagai bentuk pembuktian tanggungjawab atas nikmat kehidupan yang telah dianugerahkan pada sekalian umat manusia. Betapapun besar kezaliman dan dan amal ibadah yang kita kerjakan, keagungan dan kemahabesaran Allah tetap juga tidak akan terpengaruh. Dialah Allah yang tidak membutuhkan makhluk tapi makhluk itulah yang sangat membutuhkan Allah.
Jadikanlah kehidupan hidup ini sebagi tempat untuk mengumpulkan bekal hidup untuk akhirat kelak, dengan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan duniawi dan amal ibadah untuk ukhrawi, hanya inilah yang amat berperan untuk menentukan episode akhir kehidupan kita. Pertanyakanlah kemanakah menit-menit dan detik-detik hidup kita habiskan ?. Hidup ini barulah akan berarti bilamana dipergunakan untuk mencari keridhaan Allah disela-sela kesibukan duniawi kita, tidak ada istilah terlambat dalam beramal dan menuntut ilmu, niat yang ikhlas akan memotivasi setiap jiwa yang ingin mencari bekal untuk akhirat dengan selalu beramal shaleh yang dinaungi bangunan ibadah yang kuat…...************************
Minggu, 22 Mei 2011
HUKUM BID’AH
Mukaddimah
Bilamana seorang Muslim ingin amalannya diterima oleh Allah Ta'ala, maka hendaknya dia melakukannya sesuai dengan yang diperintahkan-Nya dan Rasul-Nya dan tidak mengada-adakan sesuatu ibadahpun dengan mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya padahal tidak ada landasannya.
Sebab, amalan seperti ini pasti tertolak karena termasuk perbuatan bid'ah. Nah, apa hukumnya bid'ah itu? Dan apa implikasinya?
Naskah Hadits
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أحْدَثَ فيِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ.
وفي رواية لمسلم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
وفي رواية لمسلم: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Dari 'Aisyah radliyallâhu 'anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari'atkan), maka ia tertolak." (HR.al-Bukhari)
Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak."
Urgensi Hadits
Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak."
Urgensi Hadits
Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata, "Hadits ini layak sekali untuk diingat dan dijadikan sebagai saksi/bukti terhadap kebatilan semua perbuatan munkar."
Beberapa Arahan Hadits
Beberapa Arahan Hadits
- Hadits ini mengandung makna bahwa Dienullah adalah dien yang sempurna, tidak menerima penambahan ataupun pengurangan. Dan inilah yang dapat disimpulkan dari firman-Nya (artinya), "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu." (Q.s.,al-Mâ`idah:3). Oleh karena itu, wajib bagi seorang Muslim untuk mengamalkan wahyu yang berasal dari Allah melalui Rasul-Nya, tanpa menambah atau menguranginya.
- Barangsiapa yang menambahkan sesuatu ke dalam Dienullah padahal bukan berasal darinya, maka ia tidak diterima di sisi Allah dan tertolak atas pelakunya. Barangsiapa, misalnya, yang beribadah kepada Allah Ta'ala dengan melakukan shalat yang tidak disyari'atkan-Nya, maka ia tidak akan diterima, pelakunya berdosa dan dijuluki sebagai Mubtadi' (pelaku bid'ah).
- Seorang Muslim wajib menyuriteladani Rasulullah di dalam semua perbuatan, prilaku dan tindakannya.
- Hukum asal di dalam semua praktik ibadah itu adalah bersifat Tawqîfiyyah. Artinya, bahwa pentasyri'an (penggodokan syari'at) hanya sebatas apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam, disertai penyerahan diri atas hal itu dan meyakini amalan ini sebagai pembawa kebaikan yang mutlak, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini, Allah Ta'ala berfirman (artinya), "Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Q.s.,an-Nisâ`:65)
- Suatu ibadah tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat:
Pertama, Menjadikannya ikhlash semata-mata karena Allah Ta'ala.
Kedua, Hendaknya ia sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits dalam kajian ini.
- Siapa saja yang telah keluar dari manhaj Ittibâ' (mengikuti) Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam maka berarti dia telah masuk ke dalam manhaj Ibtidâ' (berbuat bid'ah) dan Ihdâts (mengada-ada) di dalam agama. Padahal Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam telah bersabda (artinya), "Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka." (HR.an-Nasa`iy dari hadits yang diriwayatkan Jabir bin 'Abdullah)
- Diantara implikasi dari perbuatan Bid'ah adalah:
- Menuduh Rasullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam telah menyembunyikan sesuatu terhadap umat manusia dengan tidak menyampaikannya kepada mereka.
- Siapa saja yang berjalan di atas rel manhaj Ibtidâ' , berarti dia telah menganggap baik manhaj ini dan telah menjadi orang yang menambahi sesuatu yang tidak diizinkan Allah di dalam dien-Nya.
- Pelaku bid'ah selalu berupaya keras di dalam mengamalkan kebid'ahannya dan hal ini semua akan hilang percuma bahkan akan menjadi dosa yang akan dipikulnya kelak.
- Menuduh Rasullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam telah menyembunyikan sesuatu terhadap umat manusia dengan tidak menyampaikannya kepada mereka.
(SUMBER: Silsilah Manâhij Dawrât al-'Ulûm asy-Syar'iyyah
-al-Hadîts- Fi`ah an-Nâsyi`ah- karya Prof.Dr.Fâlih bin Muhammad ash-Shaghîr, et.ali., h.56-58)
-al-Hadîts- Fi`ah an-Nâsyi`ah- karya Prof.Dr.Fâlih bin Muhammad ash-Shaghîr, et.ali., h.56-58)
Sabtu, 21 Mei 2011
Macam-Macam Iri Hati atau Dengki dan Sebab-Sebabnya
Bismillahirrahmanirrahim...
Artikel kali ini, kita akan membahas masalah kenapa manusia didalam hatinya terdapat sifat tercela, yaitu iri hati atau dengki. Orang yang memiliki sifat iri hati atau dengki, biasanya terlihat dari raut wajahnya yang berasal dari dalam hatinya jika melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, seperti rejeki yang berlimpah, harta yang banyak, atau ketika ada orang lain atau tetangganya membeli sesuatu yang menurutnya bahwa tetangga itu tak layak atau dia menganggap tetangganya itu tidak mampu, misalnya tetangganya itu membeli televisi. Karena adanya sifat iri dan dengki, dia berusaha untuk mencari tahu dari mana tetangganya itu dapat membeli televisi dan bahkan mencoba untuk menghilangkan dengan cara menyebarkan berita bohong kepada orang lain dengan mengatakan si anu itu dari mana ia mendapatkan uang untuk membeli televisi, padahal ia adalah seorang pemulung untuk makan saja ia susah dan yang terlebih parah lagi orang yang memiliki penyakit iri dan dengki, hidupnya menjadi susah hati, apabila ada orang lain yang didengki itu memperoleh kenikmatan, tetapi sebaliknya akan senang jika melihat orang lain mendapat kesusahan. Orang yang seperti ini sama dengan tertawa diatas penderitaan dan merasa khawatir dan takut apabila ada orang lain memperoleh kesuksesan atau kebahagiaan. Iri hati atau dengki itu adalah salah satu sifat yang disebabkan oleh kemengkalan dalam hati atau biasa disebut hiqiq, tetapi ada juga dengki yang disebabkan oleh sebab-sebab yang lain, yaitu :
1. Tidak merasa senang kepada seseorang lantaran orang itu mempunyai beberapa kenikmatan dan ia mengharap agar supaya kenikmatan orang itu hilang dari padanya. Orang yang memiliki sifat iri hati dan dengki ini dapat menyebabkan orang yang dihinggapi penyakit ini akan melakukan bermacam-macam kemaksiatan dan kemungkaran kepada orang yang didengkinya itu, seperti merusak kehormatannya, yaitu mengumpatnya, membuka aib atau rahasianya, mengadu domba, bahkan memfitnah.
2. Tidak mengharapkan lenyapnya kenikmatan itu dari orang yang ia dengki, namun ia mengharap agar dirinya juga mendapatkan kenikmatan sebagaimana yang dimiliki orang ia dengki itu. Nah perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang tercela dan berdosa. Namun kita juga perlu mengetahui, bahwa iri hati atau dengki ini ada juga dianggap perbuatan yang baik, sebagaimana Rasulullah menerangkan dalam haditsnya yang berbunyi :
" Tidak ada yang diperbolehkan dalam hasad (dengki) itu, melainkan dalam dua perkara, yaitu seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia membelanjakannya untuk apa-apa yang haq (kebenaran) sehingga habisnya (umur atau hartanya) dan orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan oleh Allah, kemudian ia mengamalkan ilmunya itu dan mengajarkannya kepada para manusia."
Dari keterangan hadits diatas maksudnya dengki yang bertujuan untuk mencontoh dan ia tidak mengharapkan kenikmatan orang lain hilang dari pemiliknya, namun untuk menjadikan contoh bagaimana bisa menuruti perbuatan orang itu, misal ada orang yang kaya, tetapi dermawan, taat beribadah, banyak bersedekah dan hartanya habis untuk dibelanjakan di jalan Allah, atau ada orang yang alim memiliki ilmu pengetahuan, tetapi tidak pelit dan suka mengajarkan ilmunya kepada orang lain tanpa memharap sesuatu imbalan. Nah dengki seperti ini disebut ghibthah atau keinginan untuk mencontoh perbuatan orang lain. Dan orang seperti ini akan berusaha untuk berlomba-lomba dalam kebaikan bukan kedengkian. Sebab-sebab timbulnya penyakit iri hati atau dengki, biasa disebabkan oleh karena adanya permusuhan dan kebencian. Dan yang inilah adalah sebab utama yang merupakan timbulnya penyakit iri hati atau dengki, beratnya rasa dalam hati apabila dirinya itu ada yang melebihi dirinya dala hal apa saja, seperti rezeki, ilmu, dan lain-lain, gemar menjadi pemuka dan gemar pula kepada pangkat dan kedudukan yang tinggi serta suka dipuji dan dihormati orang lain, jadi jika ada orang yang ingin menyainginya akan disingkirkan, terlebih lagi orang tersebut juga orang terpandang, berilmu, dll, dan yang terakhir karena hatinya memang buruk, yaitu sifat ini telah sudah ada sejak lahir, sehingga ia enggan untuk melakukan kebaikan kepada sesama manusia. Orang yang mempunyai sifat iri dan dengki dapat membahayakan keagamaanya, karena orang yang dengki itu seolah-olah tidak rela kepada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah swt, mengapa bukan dirinya yang mendapat kenikmatan atau kemuliaan itu, adapun bahaya yang dalam disebabkan oleh orang yang mempunyai sifat iri dan dengki ini, ialah orang yang mendengki ini hatinya selalu panas, selalu susah dan berduka cita dan tersiksa jiwanya, setiap kali ia ingat kepada orang yang dianggapnya musuh atau saingannya itu, padahal belum tentu orang yang ia dengki itu memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.
Wassalam...
**************************************************************
**************************************************************
RIDHO ALLAH
Seorang Muslim senantiasa mengharapkan Ridho Allah dalam setiap sepak terjang aktifitasnya. Sebab ia tahu bahwa hanya dengan memperoleh Ridho Allah sajalah hidupnya menjadi lurus, terarah dan benar. Seorang Muslim yang mengejar Ridho Allah berarti menjadi seorang beriman yang ikhlas. Orang yang ikhlas dalam ber’amal merupakan orang yang tidak bakal sanggup diganggu apalagi dikalahkan oleh syetan. Allah menjamin hal ini berdasarkan firmanNya dimana dedengkot syetan saja, yakni Iblis, mengakui ketidak-berdayaannya menyesatkan hamba-hamba Allah yang mukhlis.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ
وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS Al-Hijr ayat 39-40)
Orang-orang yang telah menjadikan Ridho Allah semata sebagai tujuan hidupnya tidak mungkin dapat disimpangkan dari jalan yang benar. Mereka tidak mempan di-iming-imingi dengan kenikmatan apapun di dunia ini. Sebab mereka sangat yakin bahwa kenikmatan jannah (surga) yang Allah janjikan bagi mereka tidak bisa disetarakan apalagi dikalahkan oleh kenikmatan duniawi bagaimanapun bentuknya. Harta, tahta maupun wanita tidak mungkin mereka dahulukan daripada kenikmatan ukhrawi surgawi yang Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sendiri gambarkan sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّه
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ
وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Allah berfirman: “Aku telah sediakan untuk hamab-hambaKu yang sholeh apa-apa yang tidak pernah mata memandangnya, dan tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak pernah terbersit di dalam hati manusia.” ( HR Bukhary)
Hamba-hamba Allah yang mukhlis kebal terhadap berbagai ancaman manusia berupa siksa dan penderitaan duniawi apapun, karena bagi mereka tidak ada yang lebih menakutkan daripada ancaman Allah berupa siksa dan penderitaan hakiki di dalam neraka akhirat kelak. Mereka memiliki sikap seperti sikap para tukang sihir Fir’aun yang semula loyal kepada penguasa zalim tersebut, namun setelah menyaksikan betapa unggulnya kekuatan Allah lewat performa NabiNya Musa, maka akhirnya mereka bertaubat. Mereka selanjutnya meninggalkan (baca: baro’ alias berlepas diri dari) Fir’aun dan tidak menghiraukan ancamannya bagaimanapun bentuknya:
قَالَ آَمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آَذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ
”Fir`aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya". Mereka berkata: "Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman". (QS Asy-Syuara ayat 49-51)
Orang-orang yang sibuk menggapai Ridho Allah semata dalam hidupnya sangat meyakini bahwa hanya Allah sajalah yang patut di jadikan prioritas utama kecintaan, kepatuhan dan rasa takut. Mereka berusaha untuk selalu mendahulukan Allah dalam setiap gerak-gerik hidupnya. Mereka sangat benci menyekutukan atau menduakan apalagi men-tigakan Allah, Rabbul’aalamiin. Sebab mereka sangat yakin bahwa Allah sajalah Raja di langit dan Raja di bumi. Sehingga dalam menyerahkan kecintaan, kepatuhan atau rasa takut kepada selain Allah mereka tidak akan pernah mau menyetarakan apalagi mendahulukan selain Allah. Sikap mereka kepada para pemimpin dan pembesar dunia adalah sikap yang sangat proporsional. Mereka hanya mau mentaati pemimpin yang senantiasa mengajak kepada meraih Ridho Allah juga. Namun bila pemimpin yang ada malah mengalihkan mereka dari mengejar Ridho Allah, maka bagi orang-orang mukhlis Ridho Allah jauh lebih utama didahulukan.
Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa jalan hidup yang sepatutnya dilalui hanyalah jalan hidup yang mendatangkan keridhoan Allah. Sedangkan Allah telah menegaskan bahwa hanya Islam-lah jalan hidup atau dien yang diridhaiNya.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
”Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran ayat 19)
Sedemikian yakinnya kaum mukhlisin akan kebenaran pernyataan Allah di atas, sehingga di dalam hati mereka tidak tersisa lagi cadangan kepercayaan akan jalan hidup lainnya. Sebab semua jalan hidup lainnya bukan dari Allah yang mereka senantiasa kejar keridhaanNya. Jalan hidup lainnya hanyalah jalan hidup palsu bikinan manusia yang seringkali dihiasi dengan nafsu dan sikap zalim serta keterbatasan ilmu alias jahil atau bodoh. Orang-orang mukhlis tidak lagi menyisakan di dalam diri mereka kepercayaan akan Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme, Kapitalisme, Sosialisme, Komunsime, Humanisme, Hedonisme apalagi Demokrasi. Semua jalan hidup itu bagi mereka tidak menjamin akan mendatangkan keridhoan Alllah. Padahal mereka sudah sangat yakin bahwa hidup tanpa keridhoan Allah adalah kehidupan yang merugi dan penuh ke-sia-siaan.
Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya teladan dan prototype sempurna yang wajib diteladani segenap sepakterjang perjuangannya. Bilamana menempuh jalan uswah tersebut berakibat kepada munculnya kehidupan yang penuh kesulitan dan jalan mendaki, maka mereka dengan rela hati akan menempuhnya. Bila karena meneladani Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam
mereka harus mengalami pengucilan dan stigma negatif dari kebanyakan manusia, maka mereka dengan sabar terus menempuhnya. Tidak sedikitpun rayuan dan iming-iming maupun ancaman dan black campaign fihak musuh dapat menyimpangkan mereka dari jalan hidup teladan utama ini. Karena kaum mukhlisin sangat yakin bahwa menegakkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya jalan untuk meraih keridhoan Allah.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab ayat 21)
Sedangkan meninggalkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam hanya akan mengantarkan mereka kepada kesenangan sementara dunia namun mengakibatkan penderitaan abadi dan hakiki di dalam kehidupan akhirat kelak nanti. Apalah artinya ”seolah berjaya” sebentar di dunia untuk kemudian merugi dan menyesal selamanya di akhirat. Lebih baik bersabar sebentar di dunia untuk menikmati kesenangan dan kebahagiaan sejati lagi abadi di kampung halaman jannatun-na’iim.
Maka para pemburu Ridho Allah setiap hari senantiasa memperbaharui komitmen mereka dengan mengikrarkan di dalam dirinya kalimat “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Nabi”. Pengulangan ikrar harian ini menjadi sangat penting sebab ia merupakan salah satu jalan untuk memastikan bahwa Ridho Allah menyertai mereka ketika sudah berjumpa Allah di hari Kiamat atau hari Berbangkit. Demikianlah anjuran Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummatnya sebagaimana diterangkan di bawah ini:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim yang membaca di pagi hari dan di sore hari sebanyak tiga kali “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ahmad)
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ
حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim atau seorang manusia atau hamba yang membaca di sore hari dan di pagi hari: “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah)
*************************************************************************
Senin, 02 Mei 2011
ISLAM AGAMA PENGAWAL PRILAKU MORAL PEMELUKNYA
Post Page Rank |
Agama islam mementingkan kualitas amal. Seseorang harus terlihat pada moralnya dalam berhubungan dengan Allah SWT. Sesama alam semesta. Kualitas hubungan menaik dengan Allah harus tampak pula pada dimensi hubungan mendatar dengan sesama makhluk dan dengan lingkungan alam. Harmonis hubungan tiga dimensi ini merupakan syarat tegaknya bangunan moral yang akan bertahan lama termasuk didambakan, akan berkembang di bumi.Dalam perspektif diatas seseorang menghindari bahwa ia telah meiliki hubungan baik dengan Allah jika pergaulannya dengan sesama umat dimuka bumi berada dalam kondisi kumuh dan penuh curiga.
Al-Quran menegaskan : ”Ditimpakan kehinaan atas diri mereka dimana pun berada, kecuali (mereka yang bergantung) dengan tali Allah dan tali manusia”.(Q.S.Ali-Imran :112). Sesungguhnya ajaran agama yang fungsional dengan demikian adalah yang mampu menjaga hubungan erat dengan Allah serta dirasakan pula sentuhan positifnya pada dimensi mendatar dalam format persaudaraan yang ikhlas tulus antar pemeluk beriman.Agama yang benar-benar fungsional adalah agama yang mampu mengawal prilaku moral pemeluknya ialah Islam yang kamil(sempurna).Agama yang disalah gunakan untuk membela kepentingan seseorang, secepatnya dimasukkan kedalam museum sejarah.
Selanjutnya bila kondisi moral seseorang diteropong dengan lebih cermat tidaklah salah disimpulkan bahwa agama belum berfungsi secara benar dan efektif dengan kehidupan kolektif secara keseluruhan.Terlalu banyak penyimpangan bahkan kejahatan moral, tidak jarang atas nama kebenaran. Ini tidak lain dari perbuatan orang menginjak kebenaran hakiki untuk kepentingan-kepentingan rendah sesaat tanpa merasa berdosa dan menyesal, tidak terpikirkan hidup sesudah mati di akhirat semuanya akan dipertanggung jawabkan secara terinci satu persatu.Perbuatan seseorang mencabuli apa yang dikatan terjadi keretakan antara kata dan laku. Allah menegur : ” Mengapa kamu berkata tentang sesuatau kata apa yang akamu tidak kamu lakukan “.(Q.S. Ash-Shaff :2-3).
Teguran ini sudah disampaikan sejak puluhan abad yang lalu, beralamat terhadap pemeluk beriman. Iman bukan untuk digembur-gemburkan, tetapi untuk dibuktikan dalam perbuatan baik yang dirasakan semua orang.
Perbuatan baik inilah yang menjadi indikator utama, apakah seseorang beriman atau tidak, yaitu beriman secara autentik, bukan iman yang dibungkus dalam jubah kepalsuan, iman basa-basi. Agama yang fungsional adalah agama yang mampu mengawinkan antara spiritual dengan perbuatan baik dan mulia dalam kehidupan bersama.
Agama Islam sebagai agama rahmat, berarti Islam an pemeluknya senantiasaa jadi pengawal prilaku moral pemeluknya. Bukan Islam yang erat kepentingan politik dan pribadi. Islam sebagian pemeluknya menjadi gamang kapan prilaku moral kurang mencerminkan moral mulia. “ Wama arsalnaka ill rahmatan lilla’lamin”. ” Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk(menjadi) rahmat begi semesta alam :”(Q.S. Anbiya : 107). Sesungguhnya umat pengikut yang mulia Muhammad SAW. Dapat menunjukkan diri dan ditengah kehidupan bersama jadi rahmat. “Sebaik-baiknya manusia yang ada manfaatnya bagi orang lain”. (Hadis Bukhari).
Jika ada masalah diselesaikan secara ikhlas dan islah dibungkus moral mulia diterima semua pihak sebagaimana layaknya pengikut Muhammad Rasulullah SAW. Bukan membesar-besarkan menjadi sesuatu yang semakin rumit dan gaduh.
Posted by Bakhtiar Khatib
**************************************************************************
**************************************************************************
Jumat, 29 April 2011
Tanda Hati yang Hidup dengan Iman
Apabila hati telah menerima cahaya iman, maka ia akan menyesali segala kesalahan yang telah ia perbuat dan berkeinginan dengan berusaha untuk memperbaiki amalan-amalan yang telah ia tinggalkan dan taat kepada Allah swt. Hati yang hidup akan bertambah kuat harapannya dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam beribadah, serta takut kepada Allah.
hati yang telah dipancari oleh cahaya iman, senantiasa bersungguh-sungguh untuk menjauhi segala maksiat dan senantiasa berzikir kepada Allah. Syarat pertama dalam menuju Allah hendaklah membersihkan hati dan mengosongkan hati dari sesuatu selain Allah. Orang yang buta mata hatinya tidak merasa susah atas tertinggalnya segala ibadah dan tidak menyesal atau segala kesalahan yang diperbuat.
Obat untuk orang yang hatinya telah buta atau telah menjadi beku adalah dengan mendawamkan zikir yang disertai dengan tasdiq dalam hati. Syekh Ibnu Athaillah ra. berkata, bahwa zikir yang disertai tasdiq hati atau dengan kehadiran hati beserta Allah, yaitu hadir dengan hak Allah..........**********************
Bahaya-Bahaya yang Disebabkan Oleh Lisan
Pelajaran kita kali ini akan membahas tentang bahaya-bahaya lisan. lisan adalah yang cukup banyak memberikan corak kemaksiatan dan lisan juga dapat menimbulkan bahaya-bahaya yang dikeluarkannya, serta lidah adalah tempat bersarangnya kemaksiatan yang paling banyak ditimbulkan daripada bahaya tangan dan lain-lain. Tidak ada sesuatupun yang dapat menyelamatkan diri dari bahaya yang ditimbulkan oleh lisan, kecuali mempergunakan lisan untuk berkata-kata yang baik serta memberi manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Namun jika kita tidak dapat berkata-kata dengan baik, maka hendaklah kita diam, karena diam itu adalah emas.
Tidak akan dapat lurus keimanan seseorang hamba, kecuali luruslah dahulu hatinya, dan tidak dapat lurus hati seseorang, kecuali bila luruslah lisannya. Oleh karena itu barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik, atau kalau tidak bisa berkata yang baik, maka hendaklah berdiam diri saja. Simpanlah lisan kita dan pergunakan untuk hal-hal yang baik, namun tidak berlebih-lebihan dalam menggunakannya.
Bahaya-bahaya yang akan terjadi yang disebabkan oleh lisan itu banyak sekali, diantaranya adalah sebagai berikut :
Berkata yang tidak memberikan manfa'at untuk diri sendiri maupun orang lain. Orang yang berkata yang seperti ini hanya membuang-buang waktu saja atau sia-sia dan berarti dapat merugikan diri sendiri.
Bahaya-bahaya yang akan terjadi yang disebabkan oleh lisan itu banyak sekali, diantaranya adalah sebagai berikut :
Berkata yang tidak memberikan manfa'at untuk diri sendiri maupun orang lain. Orang yang berkata yang seperti ini hanya membuang-buang waktu saja atau sia-sia dan berarti dapat merugikan diri sendiri.
Berlebih-lebihan dalam berkata, sekalipun perkataan itu memberi manfaat. Maksudnya selalu mengulang-ulang perkataan, maka mengulang perkataan yang kedua itu dianggap berlebih-lebihan. Jika satu kali ucapan sudah cukup maka tidak perlu mengulang-ulang perkataan itu, jika perkataan yang kedua sudah dirasa cukup, tak perlu mengulang yang ketiga kalinya, karena perkataan yang ketiga inilah yang disebut berlebih-lebihan.
Berlebih-lebihan dalam ucapan itu sangat buruk sekali dan tercela, walaupun tidak dianggap berdosa dan berbahaya. Lebih baik jika kita menahan kelebihan dari lisan atau berbicara seperlunya saja. Tetapi kita juga harus memaklumi, karena ada juga perkataan yang berlebih-lebihan itu baik, seperti seorang guru yang mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya guna menerangkan sejelas-jelasnya, agar murid-murid tersebut dapat memahaminya, atau pembicaraan yang diperlukan untuk mencari nafkah, ya mau tidak mau harus dengan perkataan atau ucapan yang berlebih-lebihan. Walaupun diperbolehkan yang sedemikian itu, tetapi hendaklah kita mampu untuk menahan jangan sampai melampaui batas.
Berlebih-lebihan dalam ucapan itu sangat buruk sekali dan tercela, walaupun tidak dianggap berdosa dan berbahaya. Lebih baik jika kita menahan kelebihan dari lisan atau berbicara seperlunya saja. Tetapi kita juga harus memaklumi, karena ada juga perkataan yang berlebih-lebihan itu baik, seperti seorang guru yang mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya guna menerangkan sejelas-jelasnya, agar murid-murid tersebut dapat memahaminya, atau pembicaraan yang diperlukan untuk mencari nafkah, ya mau tidak mau harus dengan perkataan atau ucapan yang berlebih-lebihan. Walaupun diperbolehkan yang sedemikian itu, tetapi hendaklah kita mampu untuk menahan jangan sampai melampaui batas.
Berbicara yang batil, perkataan ini haram hukumnya yang jelas berdosa, misalnya mengumpat atau mengunjing atau ghibah, seperti menceritakan keburukan atau hal ihwal saudaranya sekalipun itu benar. Tetap haram hukumnya. Mau memakan bangkai saudaranya sendiri ? Oleh karena itu mari kita berusaha untuk tidak mencela dan mengumpat hal keburukan orang lain, karena barangsiapa yang membuka atau menjelek-jelekan prihal orang lain, sama dengan memakan bangkai saudaranya sendiri, yuk kita hindari perkataan-perkataan tercela, seperti, mengumpat, ghibah, memfitnah, dan adu domba, karena perbuatan itu dapat merugikan atau membahayakan diri kita sendiri dan orang lain, dan perkataan yang sedemikian itu adalah dosa besar dan yang terakhir hindari dari perdebatan-perdebatan, baik untuk mencari kebenaran diri sendiri atau mencari kelemahan atau kesalahan orang lain, karena sangat berbahaya dan dapat menyebabkan permusuhan.
******* wassalam *********
Belajar Menjadi Manusia yang Qona'ah
Melihat betapa indah dan gemerlapnya dunia dengan pernak-pernik yang kadang kala seseorang itu menjadi terpukau dan ingin mengejarnya agar dapat meraihnya, sehingga berbagai cara dilakukan untuk memperoleh kehidupan dunia yang penuh dengan keindahan dan pernak-pernik yang memukau, tak peduli haram atau halal yang penting dapat memenuhi hawa nafsu. Bukan tidak boleh, Islam tidak melarang seseorang itu mencari kehidupan yang baik, bahkan Islam menganjurkan kepada setiap umatnya untuk menjadi orang yang sukses dalam hidup, tetapi Islam melarang umatnya mendapatkannya dari jalan yang tidak diridhai oleh Allah swt.
Qona'ah artinya menerima segala pemberian atau apa yang sudah ditetapkan Allah diterima apa adanya, dan bersyukur serta bersabar. Namun bukan berarti orang yang memiliki sifat qona'ah lantas pasrah dan bermalas-malasan, kemudian tidak mau mencari atau memperbaiki kehidupannya untuk menjadi lebih baik. Sifat qona'ah disini ditekankan untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah dan menerimanya dengan ikhlas dan sabar, karena ketentuan Allah itu bukan berarti tidak bisa diubah, karena Allah tidak akan merubah nasib seseorang, kecuali ada kemauan dari diri seseorang itu untuk merubahnya. Untuk menjadi orang yang memiliki sifat qona'ah, kita harus menekan hawa nafsu kita agar tidak bersikap berlebih-lebihan, rela dengan pemberian yang sudah dianugerahkan oleh Allah swt, karena merasa bahwa memang itulah yang sudah menjadi pembagiaannya, tetapi sama sekali tidak menghentikan segala usaha untuk menambahkan yang kurang dan berniat untuk menyempurnakan sesuatu yang dirasakan belum memuaskan.
Orang yang memiliki sifat qona'ah itu tidak akan memiliki sifat rakus atau tamak dan berlebih-lebihan dan mengejar harta dunia, sehingga lalai akan kewajiban kepada Allah swt. Kita juga sudah pasti mengetahui, bahwa jika ada orang yang memiliki sifat rakus, pasti akan terseret pada kelakuan yang buruk, budi pekerti yang rendah dan hina, serta condong kepada perbuatan mungkar dan maksiat.
Seandainya para pemimpin dan pejabat dinegeri ini semuanya memiliki sifat qona'ah, maka negeri ini akan menjadi makmur dan rakyatnya akan sejahtera, karena dalam menggunakan harta negara tidak berlebih-lebihan serta tidak di korupsi, namun sayangnya masih ada yang rakus padahal jika kita lihat kehidupannya sudah lebih baik, tetapi karena adanya sifat rakus, tidak merasa puas dengan yang sudah ada.
Sifat qona'ah adalah salah satu sifat yang terpuji dan sifat qona'ah juga merupakan dasar bagi orang mukmin untuk menekan hawa nafsu yang tidak merasa puas, dan sebagai pengendali untuk menahan diri dari sifat tercela, seperti rakus dan tamak, serta loba. Jika kita memiliki sifat qona'ah , hati akan tenteram dan bebas dari keresahan dan kesusahan hidup, karena senantiasa bersyukur dan hatinya selalu tertuju kepada Allah swt. Inti dari sifat qona'ah adalah selalu bersyukur atas pemberian Allah dan menerima apa adanya.
Untuk belajar menjadi orang yang memiliki sifat qona'ah, kita harus atau diwajibkan untuk menghilangkan sifat rakus, tamak, loba dalam diri kita dan menggantinya dengan sifat tawadhu' (rendah hati), ikhlas dan rela menerima segala ketentuan Allah, bersyukur kepada Allah dengan apa yang kita punya, dan bersabar, serta tabah dalam menjalani hidup yang serba kekurangan dan ridho kepada Allah.
Pornografi: Menghancurkan Umat, Mengundang Bencana
Pornografi di negeri ini makin hari makin marak. Hal itu diantaranya ditandai dengan maraknya bintang film porno asing yang didatangkan untuk membintangi film nasional. Meski film yang dibuat bukan ber-genre pornografi, tapi tetap saja para aktris itu diminta melakukan beberapa adegan yang menjual erotisme. Makin maraknya pornograf juga bisa dilihat dari banyaknya kasus pornografi hingga adegan seks yang dilakukan oleh orang dewasa hingga anak-anak dan pelajar yang beredar di internet.Komisi Perlindungan Anak (KPAI) mencemaskan kasus pornografi yang kian marak di masyarakat sehingga menyerukan darurat pornografi (Republika, 25/4). Berbagai pihak pun menyerukan agar pornografi diperangi dan para pelakunya ditindak. Sayangnya kesadaran untuk memerangi pornografi masih dinilai rendah.
Pornografi Menghancurkan Umat
Pornografi menyimpan daya rusak luar biasa terhadap masyarakat, diantaranya:
Pertama, pornografi ternyata merusak para penikmatnya terutama anak baik secara fisik maupun psikis. Diantara daftar bahaya itu terihat dalam box (di bawah ini)
Dampak fisik dan psikis pornografi terhadap anak:
• Cara menganalisis, menilai, pemahaman, pengambilan keputusan, makna hubungan dan hati nurani anak akan rusak.
• Anak mudah depresi, mudah tersinggung, menarik diri, lebih mengarah pada seks dalam berbahasa dan mengisolasi diri.Menurut Mark B Kastleman, psikolog khusus penanganan bagi korban pornografi:
• Anak dan remaja memiliki mental model porno atau perpustakaan porno yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja
• Menyebakan kerusakan otak permanen: Visual Crack Cocain/Erototoksin)
• Anak yang belum baligh bisa menjadi pecandu pornografi seumur hidup sehingga iman akan rusak dan terkikis.
• 5 bagian otak bisa rusak : Orbito frontal midfrontal, Insula hippocampus temporal, Nucleus accumbers patumen, Cingalute dan Cerebellum.Sumber: KPAI (Republika, 25/4)
Kedua, memicu terjadinya perzinaan dan perkosaan. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), selama tahun 2010, telah terjadi 40 kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dialami oleh anak setelah pelaku menonton video porno Ariel. Para pelaku mengaku sebelum memperkosa, mereka terangsang seteah menonton video itu.
Maret lalu, di Palembang, Sumatera Selatan, sejumlah anak laki-laki berusia 12 tahun beberapa kali berpesta seks dengan pasangan mereka. Di kejadian kedua, beberapa anak memaksa dua bocah perempuan berusia 5 tahun melayani mereka, disaksikan bocah laki-laki lain. Yang ketiga kalinya, terjadi di sebuah lokasi pesta. Anak laki-laki memaksa perempuan di bawah umur mereka melakukan perbuatan seksual. Akibat perbuatan mereka, para orang tua pelaku dipanggil kepolisian (sumutpos.com, 21/3).
Ketiga, pornografi akan menyuburkan seks bebas alias perzinaan. Perzinaan pastinya mendatangkan resiko kehamilan di luar nikah. Karena kehamilan itu tidak dikehendaki, maka jalan pintasnya adalah diaborsi. Akibatnya asus aborsi akan makin banyak. Menurut data yang dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di tahun 2010, diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta. Parahnya, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja (tribunnews.com, 1/12/2010).
Keempat, pornografi menyebabkan maraknya penyakit kelamin. Porografi memicu makin maraknya pelacuran dan seks bebas. Akibatnya penyakit kelamin pun merebak, sebab penularannya mayoritas melalui pelacuran dan seks bebas itu. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mendapatkan temuan bahwa ribuan remaja di Jakarta menderita penyakit kelamin. Angka penderita penyakit kelamin di Jakarta berjumlah 9.060 orang, dengan rincian 5.051 orang berjenis kelamin perempuan dan sisanya laki-laki. Dari total jumlah penderita tersebut, 3.007 di antaranya masih berusia antara 14 dan 24 tahun (vivanews.com, 26/4). Sementara jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia mencapai 130 ribu orang pada tahun 2010 (antaranews.com, 15/11/2010). Angka sebenarnya diperkirakan lebih besar lagi sebab angka itu diyakini hanya sebagai puncak gunung es belaka.
Kelima, pornografi menyuburkan perilaku seks bebas yang bisa menyebabkan makin banyaknya kelahiran anak di luar nikah. Sementara perilaku sek bebas khususnya di kalangan mereka yang sudah menikah bisa mengancam keharmonisan suami-istri, kekacauan nasab, makin banyak keluarga yang hancur dengan segala akibatnya, merusak tatanan kehidupan keluarga dan menghancurkan institusi keluarga yang pada akhirnya akan makin memperbesar masalah sosial di tengah masyarakat.
Keenam, Pornografi dan seks bebas menyebabkan bencana kemanusiaan. Karena selain mendatangkan bahaya penyakit fisik, keduanya merusak kehormatan dan nasab manusia. Karena seks bebas, lahirlah ribuan anak-anak yang tak jelas nasabnya. Dalam pandangan Islam ini adalah dosa yang sangat besar. Nabi saw. bersabda:
مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ بِاللهِ أَعْظَمُ مِنْ نُطْفَةٍ وَضَعَهَا رَجُلٌ فِيْ رَحِمٍ لاَ يَحِلُّ لَهُ
Tidak ada dosa sesudah syirik kepada Allah yang lebih besar dari dosa orang yang menumpahkan spermanya pada rahim yang tidak halal baginya. (HR. Ibn Abiy Dunya).
Ketujuh, Pornografi jika dibiarkan akan mengundang datangnya bencana. Rasul saw mengingatkan:
« … لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيْهِمْ الطَّاعُوْنُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمْ الَّذِيْنَ مَضَوْا …»
… Tidaklah fahisyah -perbuatan keji termasuk pornografi, pornoaksi dan zina- nampak di suatu kaum hingga mereka melakukannya terang-terangan kecuali akan menyebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan berbagai penyakit yang belum terjadi di generasi-generasi yang sudah berlalu sebelum mereka. (HR. Ibn Majah, al-Bazar, al-Hakim, al-Bayhaqi, dan Abu Nu’aim)
Biangnya: Kapitalisme, Sekluerisme-Demokrasi & Liberalisme
Siapapun tidak ada yang ingin dirinya atau keluarganya menjadi korban pornografi, apalagi kejahatan seksual. Akan tetapi, selama sekulerisme-demokrasi dan kapitalisme menjadi pilar kehidupan bangsa, maka sepanjang itu pula masyarakat tidak akan bisa terlepas dari cengkraman pornografi dan kejahatan seksual. Sekularisme menolak peran agama dalam kehidupan umum. Nilai-nilai dan aturan agama (Islam) tidak boleh diikutkan dalam masalah publik. Liberalisme mengajarkan bahwa setiap manusia bebas berperilaku dan mengekspresikan diri selama tidak merugikan orang lain. Selama ini para pelau pornografi sealu berlindung dibalik ide kebebasan itu. Sementara demokrasi menyerahkan pembuatan aturan dan hukum kepada rakyat melalui wakil mereka. Hukum akhirnya dibelenggu oleh ide kebebasan, kepentingan dan dorongan hawa nafsu termasuk kepentingan para kapitalis.
Sementara kapitalisme mengajarkan untuk mencari keuntungan sebesar-sebarnya tanpa mempedulikan caranya benar atau salah, baik atau buruk bahkan meski mengancam masyarakat sekalipun. Pornografi dan eksploitasi erotisme menjadi jalan mudah menangguk kentungan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pornografi telah menjadi bisnis miliaran dolar. Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring belanja akses situs porno dari Indonesia ternyata mencapai US$ 3.673 per detik atau setara dengan Rp 33 juta lebih setiap detiknya (vivanews.com, 15/7/2010).
Syariah Memberantas Pornografi
Melihat betapa besarnya dampak buruk, bahaya dan bencana yang bisa timbul dari pornografi, sudah sepatutnya umat menendang jauh budaya pornografi ini. Tidak ada kata lain kecuali pornografi harus dibabat habis. Namun hal itu tidak mungkin bisa dilakukan dalam bngkai sistem yang ada sekarang. Sebab ideologi dan sistem sekarang yaitu sekulerisme-demokrasi dan kapitalisme justru menjadi biang penyebabnya. Alih-alih memberantasnya, di bawah payung kebebasan, sekulerisme dan demokrasi itu kebejatan pornografi justru dimungkinkan kian menjadi.
Hanya syariah islam sajalah yang bisa membabat pornografi dan menyelamatkan masyarakat dari bahayanya. Islam dengan tegs memandang pornografi sebagai kemungkaran yang harus dilenyapkan; bukan diatur, apalagi dilegalisasi. Untuk itu, syariah islam memiliki serangkaian aturan dan hukum yang bisa membabat pornografi itu. Islam mengatur tetang aurat, yaitu bagian tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh ditampakkan. Islam juga melarang penyebaran segala bentuk pornografi dan pornoaksi di tengah masyarakat. Siapapun yang melanggarnya akan dikenai sanksi yang berat. Islam juga melarang beberapa perilaku yang berkaitan dengan tata pergaulan pria dan wanita. Islam melarang tabarruj wanita (berhias berlebihan di ruang publik), ber-khalwat (berdua-duaan) dengan wanita bukan mahram (apalagi berpelukan dan berciuman), ber-ikhtilât (bercampur-baur antara pria-wanita), dan segala perbuatan yang dapat mengantarkan pada perzinaan.
Hanya dengan penerapan syariat Islam secara total di bawah payung khilafah, umat dapat merasakan keamanan dan kehormatan sebagai manusia yang sebenarnya. Wanita dimuliakan dan pergaulan dibangun dengan landasan saling tolong menolong. Karena itu sudah saatnya umat membuang sekulerisme-demokrasi dan kapitalisme dan menggantinya dengan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.
اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَأٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ
Patuhilah seruan Tuhan kalian sebelum datang suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari (dosa-dosa kalian) (QS asy-Syura [42]: 47).
Wallâh a’lam bi ash-shawâb.*************
Senin, 25 April 2011
HATI YANG BAIK
| | |
| Ditulis oleh Buletin Dakwah |
| Suatu hari pada musim haji, Abdullah bin Mubarak yang sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci tertidur di Masjidil Haram. Dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan seorang malaikat yang memberitahunya bahwa ibadah haji umat Islam tahun itu diterima Allah hanya karena kebaikan seorang tukang sepatu. Sehabis itu Mubarak terbangun. Betapa penasarannya beliau dengan mimpi itu dan betapa penasarannya beliau dengan tukang sepatu yang diceritakan malaikat dalam mimpinya itu. Apa gerangan yang dilakukan tukang sepatu itu sehingga menyebabkan ibadah haji seluruh umat Islam tahun itu diterima Allah? Beliau lalu mencari tahu siapa gerangan tukang sepatu itu dan dimana tempatnya. Hingga akhirnya beliau berhasil menemui tukang sepatu dan meminta cerita apa amalan yang dilakukannya sehingga mengantarkan diterimanya ibadah haji seluurh umat Islam tahun itu? Lalu tukang sepatu itu pun menceritakan ihwalnya, bahwa dia bersama isterinya selama 30 tahun berencana untuk naik haji. Selama itu tiap hari, minggu dan bulan dia menabung dan mengumpulkan uang untuk biaya naik haji dari jasa membuat dan memperbaiki sepatu. Tahun ini tabungan hajinya bersama isteri sudah cukup dan dia berencana untuk naik haji. Namun apa yang terjadi? Suatu hari isterinya mencium bau harum masakan dari tetangganya. Karena penasaran dengan harum masakan itu isteri tukang sepatu itu memberanikan diri menghampiri tetangga dengan maksud ingin meminta sedikit masakan sekedar ignin mencicipinya . "Wahai tetangga yang baik, hari ini saya mencium harumnya masakanmu, bolehkah saya mencicipi barang sedikit?" pinta isteri tukang sepatu itu kepada tetangganya. "Tuan puteri yang baik, masakan ini tidak halal bagimu", jawab tetangga. "Mengapa tidak halal?" tanya isteri tukang sepatu itu dengan penasaran. "Daging yang kami masak adalah bangkai yang kami temukan di jalan. Kami tidak tega melihat anak-anak kami kelaparan. Kami sudah banting tulang mencari makanan yang lebih baik, tapi kami tidak menemukannya. Akhirnya hanya bangkai ini yang kami temukan, lalu kami masak biar anak-anak dan keluarga kami tidak semakin menderita" Mendengar cerita itu, isteri tukang sepatu itu sepontan pulang dan menceritakannya kepada suaminya. Si tukang sepatu tanpa banyak bicara segera membuka tabungan haji yang dikumpulkannya selama 30 tahun dan dibawanya ke rumah tetangga. "Wahai tetangga yang baik, ambillah semua uang ini untuk keperluan makan kamu dan keluargamu, ini lah haji kami", kata tukang sepatu itu. Perbuatan mulia tukang sepatu itulah yang dijadikan Allah sebagai penyebab diterimanya amalan ibadah haji seluruh jamaah haji tahun itu. **** Kisah di atas, menceritakan betapa hati yang mulia dan baik selalu mendapatkan tempat yang mulia di mata Allah. Hati yang baik mengantarkan kepada pemiliknya kepada perbuatan yang baik dan terpuji. Hati yang baik mendatangkan pahala dan karunia Allah tidak hanya untuk si pemiliknya, namun juga untuk seluruh umat manusia. Benarlah kata Rasulullah "Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah, kalau itu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh". Hati yang baik bukanlah sekedar karunia dari Allah yang diberikan kepada orang-orang tertentu saja, namun hati yang baik juga bisa didapatkan dengan latihan dan pendidikan. Salah satu cara untuk mendapatkan hati yang baik adalah dengan senantiasa membuka komunikasi hati dan Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Baik, maka siapapun yang selalu berkomunikasi kepdaNya akan mendapatkan pancaran kebaikan. Semoga kita diberi karunia hati yang baik.....wassaalam....*****. |
Langganan:
Postingan (Atom)


